Air PDAM, Masihkah untuk Diminum

Oleh: Ajo Wayoik / Teman baik tukang galon

Redaksi

KlikGenZ – Seorang sahabat saya pernah nyeletuk, “Jow, apa sih kepanjangan PDAM?” Refleks saya jawab, “Perusahaan Daerah Air Minum.”

Tapi dia malah tertawa, “Emang masih ada yang minum air dari PDAM?” Saya terdiam. Ada benarnya juga.

Sejak hadirnya air galon, kita nyaris tak pernah lagi minum air langsung dari keran. Padahal dulu, air PDAM dipakai untuk segala keperluan minum, masak, bahkan mandi.

Sekarang? Air galon menguasai meja makan kita, dispenser jadi pemandangan biasa di tiap sudut rumah.

Zaman berubah, tapi nama PDAM tetap begitu-begitu saja. Seperti kata Prof. Yasraf Amir Piliang, cepatnya laju zaman sering membuat manusia lupa pada makna “tanda”.

Kata minum dalam PDAM perlahan kehilangan relevansinya. Generasi hari ini lebih akrab dengan galon dan dispenser ketimbang kran air di dapur.

Saya juga teringat obrolan lain soal air galon yang diam-diam bikin kita “miskin”.

Bayangkan, setiap bulan kita sisihkan uang hanya untuk beli air minum. Kalau dihitung dalam hitungan tahun, nilainya bisa besar sekali. Padahal, kalau saja air PDAM benar-benar layak minum, pengeluaran itu bisa ditekan.

Sayangnya, yang sering terjadi malah sebaliknya. Air PDAM kerap mampet, kalau pun mengalir, seringnya hanya menetes.

Sementara, pakai air tanah pun sekarang tak lagi sebebas dulu salah gali sumur bisa berurusan dengan aturan dan sanksi.

Kita sering menyebut negeri ini “Tanah Air”. Dua hal yang dulu jadi sumber kehidupan, sekarang justru terasa makin mahal. Sampai kapan? Entahlah. Jangan-jangan, suatu hari nanti beli oksigen jadi hal biasa.

Mumpung banyak kepala daerah baru di Sumbar, saya titip satu pesan: pikirkan ulang makna PDAM. Kalau tetap mau pakai embel-embel Air Minum, pastikan airnya benar-benar layak diminum.

Kalau tidak, mungkin sudah saatnya ganti nama saja menjadi Perusahaan Daerah Air Mandi atau Perusahaan Daerah Air Ledeng. Entahlah.

Yang jelas, kita semua butuh air. Tapi kalau air minum saja harus beli terus, mau jadi apa kita nanti? (*)