Politik Itu Ribet? Tenang
Gen Z & Masalah yang Nggak Bisa Ditutup Mata
Generasi kita sering dibilang generasi rebahan, nggak peduli politik. Tapi coba lihat realitanya: harga kebutuhan makin mahal, cari kerja susah, lingkungan makin rusak, korupsi dimana-mana. Itu semua masalah nyata yang kita hadapi. Kita nggak perlu jadi pakar buat sadar kalau ada yang salah.
Kebijakan yang diambil oleh pemerintah, baik yang kelihatan maupun yang diam-diam, punya dampak langsung buat kita. Kalau kamu pernah ngeluh soal harga naik atau fasilitas publik yang nggak memadai, selamat! Artinya, kamu udah peduli politik, meskipun nggak sadar. Dan justru itu yang penting: kita harus mulai ngomongin masalah yang beneran ngaruh ke kita.
Ngomong aja dulu
Sering denger kalimat “Kalau nggak ngerti, nggak usah ngomong!”? Ini nih, mindset yang bikin kita makin jauh dari diskusi politik. Padahal, kritik itu bukan berarti kita anti pemerintah. Kritik itu tanda kita peduli. Kalau kita diem aja, ya jangan kaget kalau kebijakan yang ada malah merugikan kita.
Nggak harus hafal semua pasal buat ngerti kalau ada yang nggak beres.
Nggak perlu gelar politik buat nanya, “Kenapa harga makin mahal tapi gaji segini-segini aja?”
Semua orang punya hak buat ngomongin sesuatu yang berdampak ke hidup mereka.
Nggak Paham Detail Kebijakan? Cek Prosesnya Dulu!
Ngerasa ribet baca teks undang-undang yang bahasanya berat itu? Tenang, nggak perlu jadi ahli buat tahu apakah sebuah kebijakan dibuat dengan cara yang benar atau nggak. Kalau lu bingung sama substansi aturan, coba cari tahu dulu: prosesnya udah sesuai belum?
Kita bisa cek dari berita, diskusi di media sosial, atau bahkan langsung baca sumber terpercaya di internet. Kalau ternyata ada kejanggalan—misalnya pembahasannya terlalu buru-buru, nggak transparan, atau minim partisipasi publik—itu udah jadi alarm bahaya. Karena seperti kata Mahatma Gandhi, “The means are the ends in the making.”.
A bad process does not necessarily lead to a good outcome, but a bad process will almost certainly lead to a bad result.”
Gandhi menekankan bahwa cara yang digunakan untuk mencapai sesuatu itu sama pentingnya dengan tujuan akhirnya. Kalau sebuah kebijakan dibuat dengan cara yang tidak jujur, penuh manipulasi, atau melanggar prinsip demokrasi, maka meskipun tujuannya terdengar baik, hasil akhirnya tetap bisa berantakan. Transparansi dan keterlibatan publik adalah kunci untuk memastikan bahwa kebijakan yang dibuat benar-benar adil dan berdampak positif. Jadi, kalau prosesnya aja udah bermasalah, besar kemungkinan kebijakan yang dihasilkan juga nggak beres.
Kenapa Kita Harus Peduli Sama Proses?
Kita sering dikasih tahu kalau hasil itu yang paling penting. Tapi, kalau prosesnya aja udah nggak bener, gimana bisa kita percaya kalau hasilnya bakal baik? Transparansi dalam kebijakan itu kayak ujian yang harus bisa dikoreksi semua orang. Bayangin kalau ada guru yang tiba-tiba ngasih nilai tanpa nunjukin jawaban benernya, pasti bikin curiga, kan?
Sama halnya dengan kebijakan. Kalau tiba-tiba ada peraturan baru yang kita nggak ngerti asal-usulnya, tanpa diskusi, tanpa transparansi, ya wajar kalau kita bertanya. Bukan karena kita sok tahu, tapi karena kita yang bakal kena dampaknya. John Locke, bilang kalau pemerintahan yang sah itu harus dapat persetujuan rakyat. Kalau kebijakan dibuat secara diam-diam tanpa transparansi, berarti udah menyalahi prinsip demokrasi. Jürgen Habermas juga bilang, ruang publik itu harus jadi tempat diskusi yang terbuka, bukan ditutup-tutupi. Kalau komunikasi politiknya buruk, transparansi nol, dan rakyat nggak dikasih ruang buat bersuara, itu artinya demokrasi kita lagi dalam bahaya.
Banyak yang ngerasa politik itu sesuatu yang jauh dari kita. Padahal, yang kita butuhin bukan sekadar paham teori politik, tapi kesadaran kalau kebijakan itu berdampak langsung ke kehidupan kita. Kritik kebijakan nggak harus pakai bahasa akademik. Bisa lewat obrolan sederhana, diskusi di media sosial, atau sekadar nanya ke orang sekitar.
Yang penting, jangan apatis.






