KAMI PIAMAN, BUKAN ORANG-ORANG KEJAM

Surat Terbuka untuk Semua Orang : Muhammad Fadhli / Ajo Wayoik

Redaksi
Muhammad Fadhli SSn, MSn atau yang akrab disapa masyarakat dengan nama Ajo Wayoik. selain pegiat seni juga seorang dosen di ISI Padang Panjang.

PADANG PARIAMAN, KLIKGENZ – Belakangan ini, sejumlah judul berita dan unggahan di media sosial terkait peristiwa kriminal yang terjadi di kampung kami, Piaman, terasa mulai menyayat hati. Saya tak tahu berapa banyak warga Piaman yang merasakan luka yang sama, tetapi saya sendiri merasakannya. Bahkan, beberapa kawan dari rantau menghubungi saya, menyampaikan keresahan yang mereka rasakan.

Mereka sedang merantau—berjuang untuk keluarga yang ada di kampung, mencari rezeki seperti apak, mamak, dan para senior kami dulu: berdagang. Kata mereka, pedagang Piaman itu modalnya “muluik manih, kucindan murah.” Maka jangan heran jika perantau Piaman dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan—kocak, ramah, dan selalu menyapa. Tapi sekarang, kenapa citra itu seolah diputarbalikkan? Seolah kami kejam? Seolah kampung kami tak lagi layak dikunjungi?

Dunsanak, karena banyak yang menghubungi saya, maka izinkan saya memakai kata “kami” untuk menyuarakan kegelisahan bersama ini.

Benar, kampung kami sedang berduka. Ada peristiwa penghilangan nyawa yang sangat kejam. Kami tidak menyangkalnya. Tapi pelakunya sudah tertangkap dan diproses hukum. Apakah mereka mencerminkan kami semua? Tentu tidak! Sekali lagi, tidak!

Orang Piaman masih seperti dulu—hangat, terbuka, dan menyenangkan. Ayah-ibu kami, mamak dan andeh kami, selalu mengajarkan bahwa hidup harus dijalani dengan kebaikan. Walau harimau dalam paruik, kambiang juo nan dicaliakkan. Nilai-nilai Minang yang kami pegang teguh tak pernah berubah.

Saya sendiri, dalam berbagai peran yang saya jalani—sebagai pemateri, kurator, dosen, sahabat, seniman, MC, tukang desain, tukang gambar—selalu berusaha menjaga karakter saya sebagai orang Piaman. Teladan saya adalah Ajo Andre, Ajo Buset, dan tokoh-tokoh kocak Piaman lainnya. Saya masih suka membanyol. Bahkan saat kesal pun, saya berusaha tetap mengundang tawa. Karena saya Piaman. Dan Piaman itu harus menyenangkan.

Lalu, di mana letaknya kekejaman kami? Kapan kami menyakiti fisik orang lain? Kapan perantau kami melakukan tindakan biadab? Apakah pantas seluruh Piaman dicap buruk hanya karena satu-dua kejadian?

Ya, kami akui ini kelalaian kami—kelalaian dalam menjaga lingkungan, dalam memperhatikan sekitar. Tapi janganlah ini menjadi preseden buruk. Jangan dijadikan alasan untuk menggeneralisasi. Terutama dalam pemberitaan yang menyudutkan kampung kami dan bisa berdampak buruk pada sektor pariwisata. Judul-judul yang menebarkan kesan “tidak aman” itu bisa menjadi benih travel warning untuk kampung kami.

Beberapa waktu lalu, Pak Bupati bahkan mengungkapkan pedih hatinya setelah bertemu langsung dengan keluarga korban maupun pelaku. Ia segera mengumpulkan tokoh adat, agama, pemuda, dan berbagai elemen masyarakat. Kawan saya, Datuak Def, bercerita panjang lebar tentang pertemuan itu. Kami semua, sedang dan akan terus berusaha agar hal seperti ini tidak terulang. Kami tidak diam. Kami bergerak!

Saya paham apa yang menarik untuk diberitakan—saya juga pernah jadi jurnalis. Saya pernah bekerja di Posmetro Padang. Tapi apakah benar, peristiwa-peristiwa itu harus dirangkum menjadi kesimpulan besar yang menyudutkan kampung kami?

Saya tidak sedang mencari pembenaran. Saya tidak menyangkal bahwa kelalaian ada. Termasuk dari saya sendiri. Tapi yang pasti, kami sedang mencari jalan keluar. Sampai tadi malam, saya bersama beberapa tokoh masih berdiskusi tentang langkah terbaik menjaga marwah kampung kami.

Saya masih terus bekerja bersama para seniman dan penggiat budaya untuk menggelar berbagai event seni dan budaya:

Pekan Kebudayaan Daerah di Katapiang

Festival Soundbar di Sungai Sariak

Festival Lagu Minang di Kampuang Dalam

Ratik Tulak Bala di Koto Mambang dan Sungai Sariak

Semua ini kami lakukan bukan semata demi hiburan, tetapi sebagai upaya menguatkan simpul kebersamaan, membangun solidaritas warga, dan tentu saja menjaga keamanan dan kenyamanan kampung.

Kami masih Piaman yang sama. Kampung kami masih layak dikunjungi. Masih aman dan nyaman.

Akhirnya, lewat surat terbuka ini kami mohon: jangan ubah pandangan terhadap kami. Kriminalitas bisa terjadi di mana saja, kapan saja. Kali ini kebetulan terjadi di kampung kami. Tapi percayalah, kami tidak tinggal diam.

Bagi tuan dan puan yang mencintai Piaman—walau bukan orang Piaman—percayalah, kami juga mencintai kalian. Dari lubuk hati yang paling dalam, jika ada kesalahan yang disengaja atau tidak, pada Allah saya mohon ampun, dan pada dunsanak semua saya mohon maaf. (*)