KLIKGENZ – Hari ini, ketokohan seseorang sangat mudah terlihat. Di tengah derasnya arus media sosial, siapa saja bisa menjadi pusat perhatian, dikenal, bahkan dianggap tokoh, hanya dengan narasi sesaat yang viral. Tapi, mari kita tarik napas sejenak: apakah ketokohan seperti ini benar-benar lahir dari nilai, atau hanya hasil dari polesan citra dan ledakan emosi sesaat?
Era digital membawa tren baru dalam membentuk persepsi publik. Siapa pun kini memiliki panggungnya sendiri entah melalui tulisan, audio, atau video. Narasi-narasi yang menggelegar, penuh emosi, dan seringkali tanpa dasar pijakan kuat, dengan mudah mendapat ruang dan sorotan. Sayangnya, banyak dari narasi ini hanya mewakili kepentingan pribadi atau kelompok kecil, bukan kepentingan kolektif masyarakat.
Yang lebih mengkhawatirkan, informasi yang belum jelas asal-usulnya bisa langsung dianggap fakta. Tuduhan dan kecurigaan muncul tanpa proses verifikasi, lalu menyebar cepat, dan akhirnya menjadi hoaks yang sulit dibendung. Masyarakat diseret ke dalam arus disinformasi yang dipicu oleh keinginan eksis dan ambisi pribadi, bukan semangat mencerdaskan publik.
Dalam kondisi seperti ini, peran para tokoh sangat menentukan. Tokoh pemuda, adat, ulama, masyarakat, bahkan tokoh politik daerah harus mulai mengambil posisi sebagai juru damai dan penjernih informasi, bukan justru sebagai pendorong polarisasi. Sudah saatnya para tokoh tampil membawa narasi yang membangun, bukan membakar. Memberikan perspektif yang utuh, bukan memotong-motong fakta demi mendukung argumen sendiri.
Kita terlalu sering disuguhkan tulisan yang tampil seperti berita atau opini, namun sesungguhnya hanya luapan perasaan pribadi yang dibungkus dengan bahasa retoris. Banyak narasi yang miskin logika, minim data, dan dangkal dalam analisis, hingga pembaca hanya disodori pandangan sepihak yang memperkeruh suasana, bukan mencerdaskan.
Di sinilah pentingnya literasi dan etika dalam menyampaikan opini. Jika ingin menyuarakan sesuatu ke ruang publik, mari gunakan dasar yang kuat: data, fakta, dan pemahaman yang jernih. Kita harus belajar menahan diri, memilah mana yang layak dikatakan, dan mana yang hanya sebaiknya disimpan sebagai refleksi pribadi.
Tulisan ini saya hadirkan sebagai ajakan reflektif bagi siapa saja yang merasa dirinya tokoh, atau yang berperan menyebarkan informasi. Mari kita gunakan kekuatan kata dan narasi untuk menguatkan, bukan melemahkan. Untuk membangun pemahaman bersama, bukan menabur prasangka.
Karena sesungguhnya, kemajuan suatu daerah dan masyarakat bukan ditentukan oleh seberapa lantang suara kita di media sosial, tetapi oleh seberapa besar tanggung jawab kita dalam menjaga kualitas informasi dan narasi yang kita hadirkan untuk publik.(*)






