JAKARTA |KlikGenZ – Insiden tragis yang menewaskan pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan (28) setelah dilindas oleh mobil taktis (rantis) Brimob di tengah kericuhan demo, telah memicu gelombang kemarahan publik. Warga, terutama dari komunitas ojol, menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak berwenang atas nyawa yang melayang.
Kemarahan publik ini bukan hanya ditujukan kepada pengemudi rantis, melainkan juga kepada institusi yang dianggap lalai dalam mengendalikan situasi dan personelnya. Di media sosial, tagar yang menyerukan “Keadilan untuk Affan” dan “Tuntut Tanggung Jawab Penuh” menjadi trending topic. Masyarakat merasa bahwa nyawa seorang pekerja yang sedang mencari nafkah dipertaruhkan akibat tindakan yang ceroboh dan tidak profesional.
Pihak kepolisian telah berupaya meredam kemarahan ini dengan pernyataan resmi dan tindakan cepat. Tujuh anggota Brimob, termasuk seorang Kompol, telah diamankan untuk pemeriksaan internal. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri secara langsung menyampaikan permohonan maaf dan menjamin proses hukum akan transparan.
Meski demikian, banyak pihak yang merasa pernyataan dan tindakan tersebut belum cukup. Mereka mendesak agar kasus ini tidak berakhir di meja hijau internal, melainkan diadili secara terbuka di peradilan umum. Tuntutan utama adalah agar para pelaku, terutama komandan yang bertanggung jawab, menerima hukuman yang setimpal.
Kasus ini menjadi cerminan dari ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap penegakan hukum dan memicu perdebatan mengenai penggunaan kekuatan oleh aparat dalam menghadapi unjuk rasa. Publik menunggu apakah janji untuk menegakkan keadilan akan benar-benar dipenuhi, ataukah kasus ini akan menjadi satu dari sekian banyak kasus yang perlahan dilupakan.






