SUMBAR | KlikGenZ — Berbagai protes dan gejolak sosial yang meluas di banyak negara sering disalahpahami sebagai respons terhadap isu-isu sederhana seperti kebijakan tunjangan atau kenaikan harga. Padahal, laporan komprehensif dari Bank Dunia mengungkapkan fakta yang jauh lebih mendalam: akar dari kemarahan publik adalah ketidaksetaraan ekonomi yang semakin parah.
Menurut laporan terbaru dari lembaga keuangan global tersebut, kesenjangan antara masyarakat berpendapatan tinggi dan mereka yang berada di bawah terus melebar. Meskipun ekonomi global menunjukkan pertumbuhan signifikan, manfaatnya tidak tersebar merata.
Kekayaan dan peluang kerja berkualitas justru terkonsentrasi pada segelintir elite, sementara mayoritas penduduk merasa terpinggirkan dan tertinggal. Fenomena ini menciptakan rasa ketidakadilan yang mendalam, membuat masyarakat merasa bahwa sistem yang ada tidak adil dan tidak memberikan kesempatan yang sama untuk semua orang. Kekecewaan inilah yang menumpuk hingga akhirnya meledak menjadi demonstrasi dan protes massal.
Bank Dunia menegaskan bahwa solusi jangka pendek seperti bantuan langsung tidak akan mampu meredam gejolak ini secara permanen. Untuk mengatasi ketidakstabilan ini, pemerintah didorong untuk fokus pada reformasi struktural yang lebih mendalam.
Tiga langkah fundamental yang direkomendasikan adalah: menciptakan lapangan kerja yang layak dengan upah adil dan perlindungan sosial, memperluas akses pendidikan dan kesehatan yang setara bagi semua, serta mereformasi sistem perpajakan agar lebih adil, di mana kelompok berpenghasilan tinggi memberikan kontribusi lebih besar untuk kesejahteraan sosial. Laporan ini menjadi pengingat penting bagi para pemimpin dunia bahwa kestabilan sosial hanya bisa terwujud di atas fondasi masyarakat yang lebih adil dan setara.






