Fenomena demonstrasi yang kehilangan makna kerap menimbulkan keprihatinan publik. Bagaimana seharusnya aspirasi disampaikan agar tetap bermartabat dan berdampak positif?
KlikGenZ – Demonstrasi adalah hak konstitusional setiap warga negara. Ia merupakan ruang sah untuk menyuarakan aspirasi, menyampaikan kritik, bahkan menuntut perubahan. Namun belakangan, cara sebagian kelompok dalam menyampaikan aspirasi justru menimbulkan keprihatinan.
Alih-alih menghadirkan gagasan cerdas, argumentasi berbobot, dan sikap bermartabat, sebagian aksi massa justru dihiasi umpatan, sumpah serapah, hingga hinaan terhadap pejabat publik. Gaya yang seolah menempatkan pendemo sebagai pihak paling benar ini, pada akhirnya justru merusak esensi demokrasi itu sendiri.
Masyarakat pun bukannya memberi simpati, malah melontarkan cibiran dan sinis terhadap aksi seperti ini. Aspirasi yang seharusnya menyentuh hati, berubah menjadi tontonan gaduh yang melelahkan publik.
Generasi Z, yang tumbuh dalam era keterbukaan informasi, mestinya mengambil pelajaran. Menyampaikan kritik bukan berarti kehilangan etika; menyuarakan kepentingan rakyat bukan berarti bebas dari tanggung jawab moral. Demokrasi akan sehat bila dijaga dengan cara yang santun, cerdas, dan argumentatif.
Lalu, bagaimana seharusnya aspirasi disampaikan? Demo tetap bisa lantang, tapi jangan kehilangan tata krama. Kritik tetap tajam, tapi harus berangkat dari data dan fakta. Bahasa yang digunakan haruslah menggugah, bukan merendahkan. Aksi di jalan seharusnya menjadi panggung edukasi publik, bukan arena adu makian.
Tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana menjadikan demonstrasi bukan sekadar “teriak di jalanan”, tetapi forum bermartabat yang memberi solusi. Saatnya Generasi Z menunjukkan bahwa aspirasi bisa disampaikan dengan elegan, tanpa harus kehilangan substansi maupun nilai kemanusiaan. *






