SASTRA: Cerita Fantasi “Dalang Satoru Si Mata Biru Hijau”

Oleh - Zubair Hamzah (Siswa SMP Negeri 2 Bukittinggi)

Redaksi

Di sebuah desa dekat sungai, hiduplah seorang penyihir muda bernama Dalang. Ia memiliki tongkat hijau dan kekuatan sihir yang sangat kuat.

Matanya unik, satu berwarna hijau dan satu lagi biru. Dalang tinggal bersama neneknya yang sudah sangat tua dan bijaksana.

Suatu hari, seekor naga berapi hijau muncul dari arah gunung dan menyemburkan api ke langit. Langit pun menjadi merah menyala dan udara terasa panas sekali.

PENULIS: Zubair Hamzah, siswa Kelas 7.7 SMP Negeri 2 Bukittinggi

Dalang segera pergi ke gunung untuk mencari tahu apa yang terjadi. Ia bersembunyi di balik batu besar dan melihat naga itu keluar dari goa sambil mengaum keras.

“Roooaarr!!”

Api hijau keluar dari mulut sang naga. Dalang pun segera kembali ke kota dan memperingatkan warga.

“Hati-hati! Ada naga besar menuju ke sini!,” kata Dalang kepada warga.

Namun, naga itu semakin mendekat. Dalang mengangkat tongkat hijaunya dan membacakan mantra.

Sayangnya, ia salah mengucapkan mantra sehingga naga itu justru menjadi semakin besar! Dalang panik dan berusaha memperbaikinya, tetapi naga itu sudah marah besar.

Dalam ke kekacauan itu, nenek Dalang muncul. Dengan pedang bersinar di tangannya, ia mencoba melawan naga. Namun ternyata, nenek itu bukanlah nenek Dalang yang sebenarnya.

Ia adalah penyihir jahat yang selama ini menyamar dan ingin menggunakan kekuatan naga untuk menghancurkan kota! Dalang yang terluka parah pingsan dan terbangun di rumah sakit.

Saat sadar, ia ingat ucapan nenek palsu itu sebelum pingsan: “Sebenarnya aku bukan nenekmu!”

Dalang pun segera pergi meski dokter melarangnya. Ia terbang menuju gunung untuk menghadapi penyihir jahat itu. Di sana, ia melihat penyihir itu sedang membaca mantra sambil memegang bola sihir dan bersiap menghancurkan kota.

Dalang berteriak, “Hentikan, penyihir jahat!”

Penyihir itu tertawa dan melempar bola sihir ke arah langit. Namun Dalang dengan cepat mengangkat tongkat hijaunya dan memantulkan bola itu kembali.

Bola sihir itu mengenai penyihir jahat tersebut hingga terpental dan lenyap. Setelah itu, Dalang menghadapi naga berapi hijau yang tersisa. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya dan membacakan mantra terakhir.

Cahaya hijau menyilaukan pun menyelimuti mereka. Naga itu akhirnya mati, namun Dalang juga terluka sangat parah.

Penduduk kota bersorak gembira atas keberaniannya. Dalang tersenyum lemah dan berbisik, “Kota ini sudah aman!”

Dalang pun menghembuskan napas terakhirnya di atas gunung, disinari cahaya senja yang damai.***