News  

Sumbar Darurat Banjir Bandang: Kilas Balik 150 Tahun Bencana

Dari Tanah Datar 1875 hingga tragedi 2025, Sumatera Barat terus dihantui bencana berulang. Riset menunjukkan kombinasi deforestasi, tata ruang buruk, dan cuaca ekstrem menjadi pemicu utama.

Redaksi
dok. Antara

SUMBAR | klikgenz – Sumatera Barat (Sumbar) kembali berduka akibat musibah banjir bandang besar pada November 2025, yang memakan korban jiwa di Padang dan Agam, serta merusak infrastruktur secara masif. Tragedi ini bukan yang pertama. Sejarah mencatat, wilayah Minangkabau memang memiliki riwayat panjang bencana banjir bandang, yang ironisnya terus berulang sejak era kolonial hingga hari ini.

Apa yang membuat Sumbar begitu rentan, dan pelajaran apa yang terabaikan dari waktu ke waktu?

Jejak Bencana Sejak Abad ke-19: Warisan Bencana Kolonial

Sejak zaman penjajahan Belanda, Sumbar telah menjadi saksi bisu keganasan alam. Bencana pada masa itu berfokus pada rusaknya infrastruktur vital yang dibangun kolonial:

  • Banjir Besar Tanah Datar (1875): Bencana di Fort van Der Capellen ini tak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi besar karena merendam gudang kopi.

  • Aktivitas Marapi dan Lembah Anai (1892 & 1904): Curah hujan ekstrem dan aktivitas Gunung Marapi menjadi pemicu utama. Banjir bandang di Lembah Anai pada tahun 1892 menghancurkan jalur kereta, jembatan, dan memutuskan komunikasi hingga berbulan-bulan. Bencana serupa terulang pada 1904 dan bahkan terjadi enam kali antara 1904–1906, berkali-kali menekan sistem infrastruktur kolonial.

Era Modern: Pembangunan Cepat, Mitigasi Lambat

Pasca-kemerdekaan, meskipun pembangunan berjalan pesat, masalah mitigasi bencana dan tata ruang tampaknya masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.

  • Solok Selatan (1978–1979): Banjir besar yang membawa lumpur dan kayu dari lereng Gunung Marapi memaksa warga mengungsi, menandai bahwa ancaman bencana dari hulu tidak pernah hilang.

  • Lima Puluh Kota (2020): Meski nihil korban jiwa berkat kesigapan warga, hujan deras meluapkan sungai di Kecamatan Guguak, menjadi peringatan bahwa risiko banjir lokal tetap tinggi.

  • Banjir Bandang 2025: Curah hujan ekstrem yang melanda Sumbar dan Sumatera Utara sejak November 2025 kembali menunjukkan kerentanan wilayah ini terhadap cuaca ekstrem. Kerusakan besar dan korban jiwa kembali tercatat, mengingatkan kita akan kegagalan dalam adaptasi lingkungan.

Faktor Penyebab: Kombinasi Alam dan Ulah Manusia

Kerentanan Sumbar terhadap banjir bandang adalah hasil dari kombinasi kompleks antara faktor alam dan intervensi manusia:

  1. Faktor Alam: Topografi wilayah yang didominasi pegunungan, curah hujan yang tinggi, serta fenomena seperti La Nina, mempercepat aliran air dari hulu ke hilir.

  2. Faktor Manusia: Inilah yang sering kali memperbesar dampak. Deforestasi, pembukaan lahan besar-besaran untuk perkebunan dan tambang, serta pembangunan di sepanjang aliran sungai, secara drastis mengurangi daya serap tanah dan kapasitas sungai untuk menampung air.

Kesimpulan:

Sejarah panjang bencana di Sumatera Barat adalah panggilan darurat. Banjir bandang tidak hanya merenggut nyawa dan merusak rumah, tetapi juga melumpuhkan pertanian, transportasi, dan komunikasi. Kejadian berulang ini menegaskan pentingnya tata ruang yang berbasis mitigasi bencana, serta konservasi hutan secara ketat untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.*