Padang  

Rizky Utama Luncurkan Buku “Tidak Harus Tergesa-gesa” di Pustaka Steva Padang

Pustaka Steva menjadi ruang inklusif perayaan buku pertama, dari penulis baru hingga penulis berpengalaman.

Rafi Dirga Maulana
Rizky Utama bersama dengan Mutia Farhanah & Rahmi Padilla dalam acara peluncuran Buku Tidak Harus Tergesa-gesa

Padang | KlikGenZ — Peluncuran buku Tidak Harus Tergesa-gesa karya Rizky Utama digelar di Pustaka Steva, Kota Padang, Sumatera Barat, pada Selasa, 16 Desember 2025. Kegiatan ini mendapat apresiasi dan dukungan positif dari berbagai kalangan, mulai dari penulis, akademisi, pustakawan, hingga komunitas literasi.

Acara dipandu oleh moderator, Rahmi Padilla merupakan mahasiswi Magister Psikologi Universitas Negeri Padang yang pernah aktif di Komunitas Seni Lima Rasa, khususnya Divisi Puisi, sebagai ruang ekspresi dan pengembangan kreativitas. Sementara itu, Mutia Farhanah sebagai pembahas dalam kegiatan ini adalah mahasiswi Psikologi Universitas Andalas dengan minat akademik pada pemahaman dinamika sosial yang memengaruhi perilaku individu.

Ketertarikan Mutia terhadap kajian tersebut bermula dari perjumpaannya dengan buku The Righteous Mind karya Jonathan Haidt, yang membahas bagaimana intuisi dan emosi kerap menjadi dasar pengambilan keputusan manusia, alih-alih pertimbangan rasional semata. Dari sana, minatnya berkembang pada kajian tentang peran proses intuitif dan emosional dalam pembentukan identitas kelompok serta polarisasi di media sosial.

Rizky Utama, penulis buku Tidak Harus Tergesa-gesa, lahir dan besar di Sumatera Barat, tepatnya di Kabupaten Padang Pariaman, Nagari III Koto Aur Malintang. Ketertarikannya pada dunia buku berawal dari perkenalannya dengan filsafat Stoikisme, yang perlahan menumbuhkan kecintaan pada membaca dan membawanya pada kegemaran menulis hingga kini. Dari kebiasaan tersebut tumbuh sebuah mimpi sederhana: membangun pustaka kecil. Ia dengan tekun mengumpulkan buku dan menyisihkan sebagian penghasilan setiap bulan demi mewujudkan impian tersebut.

Tidak Harus Tergesa-gesa merupakan buku pertamanya—sebuah langkah awal dari perjalanan menulis yang ia jalani dengan sabar dan penuh kesadaran. Peluncuran buku ini turut dihadiri sejumlah penulis serta komunitas literasi, di antaranya Padang Book Party.

Boy Candra, penulis buku Ikhlas Penuh Luka, menyampaikan ucapan selamat atas terbitnya buku pertama Rizky Utama. Ia berpesan agar Rizky terus produktif dan tidak berhenti menulis. Menurutnya, ekosistem literasi di Sumatera Barat, khususnya di Pustaka Steva, memberikan ruang yang inklusif bagi siapa pun untuk merayakan buku.

“Setiap buku layak dirayakan di Steva. Bahkan jika kamu penulis baru dan hanya mencetak dua eksemplar sekalipun, tetap bisa dirayakan. Kritik adalah hal biasa, tetapi satu hal yang pasti: penulis yang benar-benar mati adalah penulis yang berhenti menulis dan berhenti menerbitkan buku,” ujar Boy Candra. Ia menambahkan bahwa selama buku diterbitkan, diterima atau tidak oleh pembaca, proses berkarya tidak boleh berhenti.

Penulis novel Leiden, Hasbunallah Haris, turut menyampaikan pandangannya dengan mengibaratkan setiap karya sebagai anak yang harus dirawat dan dijaga dengan penuh tanggung jawab. Sementara itu, Nisya’ Tri Yolanda, seorang pustakawan, menilai buku Tidak Harus Tergesa-gesa sebagai kontribusi yang baik dan relevan bagi masyarakat sekitar.

Dalam kesempatan tersebut, Rizky Utama menyampaikan rasa terima kasihnya, khususnya kepada Pustaka Steva yang telah memberikan ruang agar bukunya dapat dikenal lebih luas. Ia mengaku sangat bersyukur atas dukungan yang datang dari para penulis, komunitas literasi, serta teman-teman terdekat yang hadir. Rizky berharap tidak berhenti pada karya pertamanya dan dapat terus menyuguhkan karya-karya berikutnya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang telah meluangkan waktu membaca bukunya.

Sebagai pembahas, Mutia Farhanah menilai Tidak Harus Tergesa-gesa sebagai buku yang sangat relevan dengan kondisi masa kini. Menurutnya, buku ini mudah dipahami dan cocok bagi mereka yang kerap mencemaskan masa depan serta terlalu mengkhawatirkan pencapaian, hingga lupa hadir dan sadar dalam proses. Buku ini, kata Mutia, mengingatkan bahwa menjalani hidup dengan lebih pelan bukan berarti tertinggal.