News  

BERPIKIR, BERGERAK, BERDAMPAK: AKSI NYATA HIMPUNAN MAHASISWA ADMINISTRASI PUBLIK, UMNATSIR BUKITTINGGI DI MALALO

32 mahasiswa Administrasi Publik UMNatsir Bukittinggi lakukan aksi sosial terencana di Jorong Tanjung Sawah, Padang Laweh Malalo, Tanah Datar

Rafi Dirga Maulana
Dok : Diga Oktavianne

TANAH DATAR | KlikGenZ – Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik, Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi (UMNatsir) memilih turun ke lapangan ketika proses pemulihan pasca bencana masih berlangsung. Pada Sabtu, 27 Desember 2025 sebanyak 32 orang mahasiswa hadir di Jorong Tanjung Sawah, Nagari Padang Laweh Malalo, Kabupaten Tanah Datar. Kehadiran ini bukan sekedar kunjungan singkat, melainkan bagian dari kerja sosial yang terencana. Fokus kegiatan diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat pasca bencana.

Kegiatan yang bertajuk “HIMA Administrasi Publik Bergerak Bersama Pulihkan Malalo” disusun dengan pendekatan kerja langsung. Mahasiswa tidak memusatkan kegiatan pada satu titik, melainkan membagi peran sesuai kebutuhan lapangan. Hal ini dilakukan sebagai respons atas kondisi pascabencana yang masih menyisakan persoalan mendasar bagi warga, terutama akses air bersih dan pemulihan lingkungan rumah. Kehadiran mahasiswa tidak ditempatkan sebagai simbol solidaritas semata, melainkan bagian dari kerja sosial yang terukur dan langsung menyentuh kebutuhan warga. Pendekatan ini memperlihatkan cara mahasiswa membaca masalah publik secara konkret di lapangan.

Kegiatan difokuskan pada tiga agenda utama, yaitu trauma healing untuk anak-anak, distribusi bantuan air bersih, serta kerja bakti membersihkan rumah warga dari sisa lumpur. Anak-anak menjadi perhatian awal karena kelompok ini paling rentan mengalami tekanan psikologis pascabencana. Mahasiswa mengajak mereka bermain, berinteraksi, dan membangun kembali rasa aman melalui aktivitas sederhana tanpa pendekatan berlebihan. Upaya ini dilakukan bersamaan dengan distribusi mainan sebagai media pendukung pemulihan emosional.

Selain itu, HIMA AP juga membawa satu unit toren air minum yang langsung dipasang di lingkungan surau setempat. Toren tersebut ditempatkan agar mudah diakses dan digunakan bersama oleh warga sekitar. Pemilihan lokasi surau dimaksudkan agar air dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan harian sekaligus untuk berwudhu. Dengan demikian, fungsi sosial dan kebutuhan ibadah warga dapat terpenuhi secara bersamaan. Mereka juga menyalurkan 100 jerigen air minum berkapasitas lima liter kepada warga terdampak. Distribusi ini dilakukan secara langsung untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan segera dimanfaatkan. Air bersih dipandang sebagai kebutuhan paling mendesak karena jaringan distribusi warga belum sepenuhnya pulih. Langkah ini menunjukkan pemahaman mahasiswa terhadap prioritas pelayanan dasar dalam situasi darurat.

Baca Juga  Gempa M 7,1 Guncang Melonguane Talaud, BMKG: Dipicu Deformasi Batuan Lempeng Maluku

Kegiatan ini digagas oleh Sekretaris Umum HIMA AP yang bertindak sebagai Ketua Pelaksana, Rhandi Rizaldi. Ia menegaskan bahwa kegiatan dirancang agar mahasiswa tidak sekadar hadir, tetapi benar-benar bekerja dan belajar dari situasi nyata. Pendampingan dilakukan oleh Pembina HIMA, Diga Putri Oktaviane, yang menekankan pentingnya empati sebagai kompetensi dasar mahasiswa administrasi publik. Menurutnya, pemahaman kebijakan publik harus bertumpu pada pengalaman langsung dengan masyarakat.

Mahasiswa juga terlibat membersihkan rumah-rumah warga yang terdampak lumpur akibat bencana. Kerja ini dilakukan bersama warga tanpa pembagian peran yang kaku antara mahasiswa dan masyarakat. Aktivitas tersebut menjadi ruang interaksi yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan realitas sosial. Dari proses ini, mahasiswa belajar bahwa kerja publik sering kali dimulai dari tindakan paling sederhana.

Di sela kegiatan, mahasiswa sempat berdialog dengan Wali Jorong Tanjung Sawah, Ketua Pemuda, serta Ketua Satgas Bencana Jorong. Percakapan berlangsung informal namun substantif, membahas kondisi warga dan kebutuhan lanjutan pascabencana. Wali jorong menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa yang dinilai membantu meringankan beban masyarakat. Ia juga berharap keterlibatan mahasiswa seperti ini dapat terus berlanjut dalam berbagai situasi sosial.

Baca Juga  Bupati Tegas: ‘Tak Mau Lagi Dengar Keluhan soal PDAM!’ – Aznil Mardin Resmi Dilantik

Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran di luar kelas yang tidak dapat digantikan oleh simulasi akademik. Mereka berhadapan langsung dengan keterbatasan sumber daya, kebutuhan mendesak, dan dinamika sosial masyarakat. Proses ini melatih kepekaan, kemampuan bekerja sama, serta tanggung jawab sosial sebagai calon aparatur dan pengelola kebijakan publik. Nilai empati dibangun melalui keterlibatan langsung, bukan melalui ceramah atau slogan.

Motto yang dimiliki HIMA AP yaitu “Berpikir, Bergerak, Berdampak” diterjemahkan dalam praktik yang sederhana namun konsisten. Mahasiswa memulai dengan membaca persoalan, bergerak bersama warga, dan memastikan setiap tindakan memiliki manfaat nyata. Tidak ada seremoni berlebihan dalam kegiatan ini, karena fokus utama adalah kerja dan kebermanfaatan. Pendekatan tersebut memperlihatkan arah gerak organisasi mahasiswa yang berorientasi pada praktik dan hasil.

Kegiatan di Malalo menjadi penanda bahwa mahasiswa administrasi publik tidak hanya berbicara tentang kebijakan, tetapi juga menjalankannya dalam skala paling dasar. Dari distribusi air hingga pembersihan rumah warga, seluruh aktivitas dirancang sebagai bentuk pelayanan publik langsung. Pengalaman ini diharapkan membentuk karakter mahasiswa yang peka, tangguh, dan bertanggung jawab. Dalam konteks pendidikan tinggi, kerja seperti ini menjadi bagian penting dari pembentukan integritas dan empati sosial.