ACEH SINGKIL | KLIKGENZ — Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap II Kabupaten Aceh Singkil. Seorang calon PPPK, Junaidi (40), meninggal dunia sebelum sempat mengikuti prosesi pelantikan yang telah lama dinantikannya.
Suasana haru menyelimuti rumah duka di Kampong Tanah Bara, Kecamatan Gunung Meriah, saat jenazah almarhum disemayamkan. Tubuh Junaidi tampak ditutup dengan seragam Korpri, pakaian kebanggaan aparatur sipil negara yang telah ia persiapkan untuk momen bersejarah dalam hidupnya.
Junaidi menghembuskan napas terakhir pada 20 Desember 2025 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Singkil akibat sakit.
Kabar duka tersebut disampaikan oleh rekan sesama PPPK Tahap II, Ahmad Saidi.
“Almarhum meninggal dunia saat masih menunggu jadwal pelantikan bersama kami sebagai PPPK Tahap II,” ujar Ahmad, Senin (29/12/2025).
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, pihak keluarga menutup jenazah Junaidi dengan baju Korpri. Tindakan tersebut menjadi simbol perjuangan, pengabdian, dan harapan almarhum yang tak sempat terwujud, meski telah dinyatakan lulus sebagai PPPK.
Kepergian Junaidi meninggalkan duka mendalam bagi istri dan lima orang anaknya, serta rekan-rekan seperjuangan yang selama ini bersama-sama menanti pengangkatan resmi sebagai aparatur negara.
Sebagai wujud solidaritas dan belasungkawa, rekan-rekan PPPK Tahap II Kabupaten Aceh Singkil berinisiatif menggalang donasi untuk membantu keluarga almarhum yang ditinggalkan.
Lulus PPPK Tahap II, Tinggal Menunggu Pelantikan
Almarhum Junaidi diketahui telah lulus seleksi PPPK Tahap II pada formasi Operator Layanan Operasional di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Singkil, Bidang Kedaruratan dan Logistik, formasi tahun 2025.
Bahkan, kontrak kerja almarhum telah ditandatangani bersama Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon, SH, pada 5 November 2025. Dengan demikian, Junaidi sejatinya hanya tinggal menunggu jadwal pelantikan resmi untuk mulai menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa hidup penuh dengan ketidakpastian, sekaligus menyisakan duka dan harapan yang tak sempat terwujud di penghujung perjuangan panjang seorang calon abdi negara. [*]





