JAKARTA | KLIKGENZ – Pakar klimatologi dan perubahan iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, mengingatkan pentingnya langkah mitigasi dini di wilayah Sumatra menyusul potensi peningkatan signifikan kejadian angin dan hujan ekstrem dalam beberapa dekade ke depan.
Dalam diskusi daring yang diikuti dari Jakarta, Selasa, Erma menjelaskan bahwa berdasarkan analisis parameter angin dan hujan ekstrem, Sumatra menempati peringkat teratas sebagai wilayah yang paling terancam dampak cuaca ekstrem akibat krisis iklim.
“Berdasarkan proyeksi hingga tahun 2040, peningkatan angin ekstrem pada periode Desember, Januari, dan Februari paling signifikan terjadi di Sumatra. Sumatra berada di peringkat pertama, disusul Kalimantan, kemudian Jawa,” ujar Erma.
Ia menegaskan, kondisi tersebut menjadikan Sumatra sebagai wilayah yang harus mendapat prioritas tinggi dalam upaya mitigasi cuaca ekstrem.
“Sumatra ini memang harus menjadi prioritas kita, high priority of the mitigation for the extreme weather,” tambahnya.
Proyeksi tersebut disusun berdasarkan data historis iklim yang dianalisis hingga kondisi terkini. Selain angin ekstrem, potensi hujan ekstrem juga diperkirakan meningkat, khususnya pada musim hujan yang secara tradisional berlangsung pada Desember hingga Februari.
Erma menjelaskan, peningkatan kejadian ekstrem di Sumatra tidak terlepas dari dinamika interaksi laut dan atmosfer di kawasan sekitar, termasuk Selat Malaka dan Samudera Hindia.
“Jika hujan dan angin sama-sama berubah signifikan, itu artinya tidak bisa lagi kita abaikan. Sinyal-sinyal ini merupakan kejadian langka yang seharusnya terjadi 150 tahun sekali, namun kini menjadi semakin sering,” tuturnya.
Untuk itu, BRIN mendorong agar langkah mitigasi dan adaptasi iklim segera diperkuat, terutama di wilayah-wilayah rentan di Sumatra. Upaya tersebut antara lain meliputi pemulihan ekosistem, pengerukan sungai, pembuatan jalur air untuk mencegah banjir bandang, serta peninjauan ulang kondisi hulu daerah aliran sungai (DAS) guna memastikan daya tampung air hujan tetap optimal.





