Bara Api dan Harapan Baru: Tradisi Bakar Jagung di Malam Pergantian Tahun

Tradisi Bakar Jagung Malam Tahun Baru, Ritual Sederhana yang Hangatkan Kebersamaan

KLIKGENZ – Ketika jarum jam mendekati angka dua belas dan kembang api mulai menghiasi langit, aroma jagung bakar, ikan, dan ayam panggang perlahan mengepul dari halaman-halaman rumah warga. Di banyak daerah di Indonesia, malam pergantian tahun tidak selalu dirayakan dengan pesta gemerlap atau keramaian kota. Justru, bara api sederhana dan makanan bakar menjadi penanda hangatnya awal tahun baru.

Tradisi membakar jagung, ikan, hingga ayam pada malam tahun baru telah lama menjadi ritual sosial yang mengakar. Bukan sekadar soal menu, melainkan tentang kebersamaan. Proses membakar yang membutuhkan waktu membuat siapa pun yang terlibat mau tak mau duduk bersama, bercengkerama, tertawa, dan berbagi cerita tentang setahun yang telah berlalu—seraya menanti detik-detik pergantian tahun.

“Kalau bakar jagung, rasanya lebih lama nunggu tahun barunya. Tapi justru di situ serunya,” ujar Rani (34), warga Jakarta Timur, yang setiap tahun memilih merayakan tahun baru di rumah bersama keluarga besar.

Baca Juga  7 Tips Penting untuk Gen Z Menyambut Tahun 2026, Bukan Sekadar Resolusi

Jagung bakar menjadi simbol kesederhanaan yang merangkul semua kalangan. Harganya terjangkau, mudah didapat, dan tidak memandang status sosial. Menjelang akhir Desember, pasar-pasar tradisional dipenuhi jagung manis yang dibeli dalam jumlah besar. Tak jarang, ikan dan ayam turut melengkapi menu, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing keluarga.

Selain kebersamaan, bara api juga menghadirkan kehangatan. Malam tahun baru yang sering kali berangin atau dingin terasa lebih akrab ketika semua berkumpul di sekitar api, menghangatkan tangan sekaligus suasana. Aktivitas ini menjadi alternatif yang dianggap lebih aman dan nyaman dibandingkan harus berdesakan di pusat kota atau terjebak kemacetan panjang.

Baca Juga  NASA Temukan Bukti Kehidupan Purba di Mars dari Sampel Rover Perseverance

Di balik tradisi lokal ini, terselip pula pengaruh budaya global. Konsep barbeque yang identik dengan perayaan dan awal yang baru turut membentuk cara masyarakat merayakan tahun baru, namun tetap dikemas dengan cita rasa dan kebiasaan khas Indonesia.

Tak hanya bernilai sosial dan budaya, tradisi ini juga membawa dampak ekonomi. Para petani jagung dan pedagang musiman merasakan berkahnya. Penjualan jagung bakar menjelang malam tahun baru disebut-sebut bisa meningkat hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.

Di tengah perubahan gaya hidup dan hiburan modern, tradisi membakar jagung, ikan, dan ayam tetap bertahan. Bara api sederhana itu bukan hanya memanggang makanan, tetapi juga menghangatkan relasi, mengikat kenangan, dan menjadi cara paling jujur untuk menyambut harapan baru di awal tahun.[*]