Lautan Memanas, Ilmuwan Peringatkan Munculnya Badai Kategori 6

Pemanasan laut global mendorong munculnya badai super di atas Kategori 5 dan mengancam wilayah pesisir padat penduduk

Redaksi
Ilustrasi. Lautan selama ini dikenal sebagai 'mesin' pembentuk badai tropis dan topan terkuat di dunia kini mengalami pemanasan signifikan. (Foto: AFP/NHAC NGUYEN)

JAKARTA | KLIKGENZ — Lautan dunia yang selama ini menjadi “mesin” pembentuk badai tropis kini berubah menjadi pemicu krisis iklim yang lebih berbahaya. Pemanasan signifikan di Samudra Atlantik Utara dan Pasifik Barat mendorong kemunculan badai super dengan intensitas ekstrem, bahkan melampaui kategori tertinggi yang selama ini dikenal.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia berkontribusi hingga 70 persen terhadap perluasan wilayah laut panas tempat badai terbentuk. Tidak hanya permukaan laut yang menghangat, panas kini menembus hingga lapisan laut yang lebih dalam, membuat badai semakin sulit dilemahkan secara alami.

Kondisi ini memicu kekhawatiran baru: badai tropis ultra-kuat yang diusulkan sebagai Kategori 6 semakin sering terbentuk dan berpotensi menghantam kawasan pesisir padat penduduk.

“Wilayah laut panas telah meluas secara signifikan,” ujar I-I Lin, Profesor Emeritus Ilmu Atmosfer Universitas Nasional Taiwan, dikutip dari Science Daily, Kamis (25/12).

Mengapa Ilmuwan Mendorong Kategori Badai Baru?

Gagasan penambahan Kategori 6 bukan tanpa dasar. Lin telah meneliti siklon tropis ekstrem selama lebih dari satu dekade, terutama setelah Topan Haiyan (Yolanda) menghantam Filipina pada 2013 dan menewaskan ribuan orang.

Baca Juga  Kepala BNPB Dorong BPBD Miliki Kewenangan Penuh Antisipasi Bencana Nataru 2025–2026

Pada 2014, Lin dan timnya mempublikasikan riset di Geophysical Research Letters yang mengusulkan kategori baru bagi badai dengan kecepatan angin di atas 160 knot. Selama ini, badai dengan kecepatan di atas 137 knot masih dimasukkan ke dalam Kategori 5.

Menurut Lin, setiap kategori badai memiliki rentang sekitar 20 knot, sehingga kehadiran Kategori 6 akan membuat sistem klasifikasi lebih konsisten dan realistis terhadap kondisi iklim saat ini.

Daftar Badai Paling Ekstrem di Dunia

Sejumlah badai paling destruktif dalam sejarah modern memenuhi kriteria Kategori 6, di antaranya:

  • Topan Wilma (2005) – badai terkuat yang pernah tercatat di Atlantik

  • Topan Haiyan (2013) – menghancurkan Filipina

  • Topan Hagibis (2019) – melumpuhkan wilayah Tokyo

  • Badai Patricia – siklon terkuat yang pernah diamati, dengan angin mencapai 185 knot

“Patricia adalah raja dunia,” tegas Lin.

Frekuensi Badai Super Terus Meningkat

Analisis data badai selama 40 tahun terakhir menunjukkan tren yang mengkhawatirkan:

  • 1982–2011: 8 badai ekstrem

  • 2013–2023: 10 badai ekstrem

Artinya, lebih dari separuh badai Kategori 6 muncul dalam satu dekade terakhir, seiring percepatan pemanasan global.

Titik Panas Laut: Ancaman Nyata bagi Dunia Pesisir

Sebagian besar badai ekstrem ini terbentuk di titik panas laut, terutama:

  • Pasifik Barat (timur Filipina dan Borneo)

  • Atlantik Utara (timur Kuba, Hispaniola, hingga Florida)

Wilayah ini tidak hanya memiliki air permukaan hangat, tetapi juga lapisan panas laut yang sangat dalam, sehingga badai tidak mudah melemah meski mengaduk air dari bawah.

“Titik panas adalah syarat penting, tetapi tetap membutuhkan kondisi atmosfer yang mendukung,” jelas Lin.

Alarm Dini Krisis Iklim

Temuan ini menjadi peringatan keras bagi dunia, khususnya negara-negara pesisir. Dengan laut yang terus memanas, badai ekstrem bukan lagi anomali, melainkan kenyataan baru akibat krisis iklim global.[*CNN Indonesia]