Fenomena Live PK di TikTok: Keprihatinan Baru bagi Masyarakat

Redaksi
dok:Klikgenz

SUMBAR, Klikgenz -Fenomena live Pertarungan Kekuatan (PK) di TikTok saat ini menjadi keprihatinan bagi banyak pihak, terutama kalangan tokoh masyarakat, tokoh adat, ulama, dan orang tua. Konten tersebut seringkali mengandung unsur kekerasan, seksualitas, dan konflik yang tidak seimbang.

Fenomena ini dapat memiliki dampak yang signifikan pada perilaku dan pola pikir remaja dan dewasa muda. Konten live PK di TikTok banyak mengundang perhatian masyarakat pengguna TikTok, dari dewasa hingga kalangan remaja.

Darmawi, anggota Bamus Nagari III Koto Aur Malitang, mengatakan bahwa banyak konten kreator TikTok yang lebih cenderung ke hal-hal yang tidak bermanfaat. “Kebanyakan konten live PK mereka mengandung adegan berbahaya, kata-kata kotor, sumpah serapah, dan tidak menjadi tabu lagi bagi mereka untuk mengucapkannya.”

Penonton mereka tak tanggung-tanggung sampai ribuan penonton setiap kali live. Demi meraup cuan yang diberikan oleh penonton TikTok, para konten kreator ini rela melakukan apa saja.

Ridatul Ikhlas, seorang tokoh masyarakat dan ulama, melihat fenomena TikTok saat ini sangat mengkawatirkan sosial masyarakat kita. “Tantangan lisan dengan nada menantang menjadi hal yang wajar, serta lontaran kata-kata yang tidak pantas untuk ditiru dan didengar publik.”

Hari ini, hampir seluruh remaja memiliki dan mengenal akun TikTok, sehingga tayangan dan konten seperti itu sangat mudah mereka temukan. Para remaja banyak menghabiskan waktu hingga larut malam bersama TikTok di android mereka.

Contohnya adalah para konten kreator lokal yang lagi hits seperti Bur*** Pip**, Siku***, Bur*** Bo***, A** Fa***, dan berbagai wilayah lainya. Mereka setiap hari selalu konsisten melakukan live dengan tantangan yang beresiko tinggi kepada lawan untuk meraup gief demi gief dari para NVP atau parasultan.

Hendri (18), remaja kelas XII SMK Negeri di IV Koto Aur Malintang, mengatakan bahwa hampir setiap hari ia bersama TikTok hingga larut malam. “TikTok itu enaknya, rata-rata kalangan remaja dan dewasa, pada umumnya kaum wanita di TikTok lebih agak terbuka, baik ngobrol dan juga life stayle para anak muda, no baperan.”

Asrul Khairi Wali Nagari Sikucur Kec. V Koto Kampuang Dalam Kab. Padang Pariaman ikut mengamati mengatakan Tanpa kita sadari, fenomena live PK di TikTok menjadi keprihatinan berbagai kalangan karena beberapa alasan:

1. Pengaruh pada perilaku: Konten kekerasan dan konflik dapat mempengaruhi perilaku remaja dan dewasa muda, membuat mereka lebih agresif dan tidak toleran.

2. Dampak pada kesehatan mental: Paparan konten yang tidak seimbang dan kekerasan dapat mempengaruhi kesehatan mental remaja dan dewasa muda, membuat mereka lebih rentan terhadap stres, kecemasan, dan depresi.

3. Pengaruh pada nilai-nilai sosial: Fenomena live PK di TikTok dapat mempengaruhi nilai-nilai sosial remaja dan dewasa muda, membuat mereka lebih menerima kekerasan dan konflik sebagai cara untuk menyelesaikan masalah.

Dalam mengatasi fenomena ini, Asrul Khairi menggaskan, perlu keseriusan dari berbagai pihak. dapat mengambil beberapa langkah bijak:

1. Kampanye kesadaran tentang bahaya konten kekerasan dan konflik di media sosial.

2. Mengembangkan program pendidikan yang berfokus pada kesehatan mental, kesadaran sosial, dan pengembangan kemampuan hidup para anak muda tingkat sekolah.

3. Mengatur konten media sosial yang tidak seimbang.

4. Kerjasama dengan stakeholder, seperti Pemerintah Nagari, sekolah, organisasi masyarakat, dan platform media sosial, untuk mengatasi fenomena keterlibatan para siswa dan siswi dari konten-konten negatif.(*)