Jasad Martin Carreras Fernando ditemukan sekitar dua kilometer dari titik dugaan tenggelamnya KM Putri Sakinah, tepatnya di sekitar Pulau Padar, Kabupaten Manggarai Barat. Identitas korban dipastikan setelah proses identifikasi oleh tim forensik Polda NTT.
“Setelah diidentifikasi tim forensik Polda NTT, terkonfirmasi jasad itu Martin Carreras Fernando,” ujar Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman.
Dengan ditemukannya jasad Fernando, kini tersisa dua korban yang masih dalam pencarian, yakni Martin Garcia Mateo dan Martines Ortuno Enriquejavier, yang merupakan anak korban.
Kronologi Tenggelamnya Kapal
Kecelakaan laut tersebut terjadi pada Jumat (26/12/2025) sekitar pukul 20.30 Wita, sekitar 30 menit setelah KM Putri Sakinah berlayar dari Pulau Kalong. Kapal mengalami mati mesin di tengah kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi hingga akhirnya tenggelam.
Saat kejadian, kapal membawa:
Istri korban, Ortuno Andrea, dan salah satu anaknya Mar Martinez Ortuno ditemukan selamat. Sementara satu anak lainnya, Martines Ortuno Maria Lia, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Operasi SAR Diperpanjang
Operasi SAR awalnya berlangsung selama tujuh hari sejak 26 Desember 2025, kemudian diperpanjang tiga hari mulai 2 Januari 2026. Dengan ditemukannya satu korban tambahan, pencarian kembali diperpanjang hingga 7 Januari 2026.
Operasi ini melibatkan unsur Basarnas, TNI, Polri, serta instansi terkait, dan mendapat perhatian serius dari Pemerintah Spanyol.
Dugaan Modifikasi Kapal
Penyebab tenggelamnya KM Putri Sakinah masih dalam penyelidikan polisi. Belasan saksi telah diperiksa dan kasus kini resmi masuk tahap penyidikan pidana.
Beredar dugaan adanya modifikasi kapal, seperti penambahan dek dan kamar, yang diduga memengaruhi keseimbangan kapal.
“Semua aspek, termasuk kondisi dan desain kapal, kami dalami. Apakah kapal tersebut aman dan layak berlayar,” kata Kabid Humas Polda NTT, Kombes Henry Novika Chandra.
Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menegaskan bahwa modifikasi kapal tanpa perhitungan teknis dapat berakibat fatal.
“Keseimbangan kapal adalah faktor utama keselamatan. Kapal wisata yang tidak seimbang seharusnya dilarang beroperasi,” ujarnya.
Ia mendorong audit menyeluruh terhadap seluruh kapal wisata di Labuan Bajo agar tragedi serupa tidak kembali terulang.[*kompas.id]