HALMAHERA BARAT | KLIKGENZ — Banjir melanda Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, akibat curah hujan berintensitas tinggi yang terjadi sejak Rabu dini hari (7/1/2026) sekitar pukul 04.00 WIT. Hujan deras yang berlangsung cukup lama menyebabkan meluapnya aliran air, menggenangi permukiman warga, serta memutus akses jalan di sejumlah wilayah.
Bencana ini berdampak signifikan terhadap aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Data sementara mencatat banjir melanda lima kecamatan dan sembilan desa, yakni Kecamatan Ibu (Desa Gamlamo, Tongute Ternate, Tongute Ternate Asal, dan Gamici), Kecamatan Sahu Timur (Desa Gamoneng), Kecamatan Tabaru (Desa Duomo dan Goin), Kecamatan Ibu Selatan (Desa Talaga), serta Kecamatan Loloda (Desa Soasio).
Dalam peristiwa tersebut, dilaporkan dua warga meninggal dunia di Desa Soasio, Kecamatan Loloda. Selain itu, sebanyak 726 kepala keluarga atau sekitar 3.444 jiwa terdampak langsung, dengan sekitar 1.500 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Para pengungsi sementara menumpang di rumah warga yang tidak terdampak, sekolah, serta balai desa.
Kerugian materiil akibat banjir terbilang besar. Tercatat 726 unit rumah terdampak, dengan rincian 34 unit mengalami kerusakan berat, tiga unit rusak sedang, dan 286 unit rusak ringan. Selain itu, satu unit rumah toko (ruko) dilaporkan rusak berat.
Dalam penanganan darurat, BPBD Kabupaten Halmahera Barat telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan asesmen di lokasi terdampak. Proses evakuasi warga, terutama kelompok rentan, masih terus dilakukan. Sebagai langkah awal pemenuhan kebutuhan dasar, BPBD menyalurkan bantuan berupa satu ton beras dan 500 dus mi instan kepada warga terdampak.
Saat ini, kebutuhan mendesak di lokasi bencana meliputi tenda, terpal, matras atau alas tidur, makanan siap saji, sembako, paket bayi, selimut, family kit, serta perlengkapan kebersihan. Penanganan bencana melibatkan unsur BPBD, TNI, Polri, Dinas Sosial, Kominfo, PLN, dan Basarnas.
Berdasarkan laporan terkini, banjir di sebagian wilayah mulai surut. Namun, curah hujan masih terpantau sangat tinggi. BMKG memperkirakan potensi cuaca ekstrem masih akan berlangsung di wilayah Halmahera Barat pada periode 5–11 Januari 2026. Hingga kini, jaringan listrik dan akses komunikasi di beberapa lokasi masih terputus.

Lokasi pengungsian sementara berada di rumah penduduk, SD Tongute Ternate, serta Balai Desa Tongute Ternate Asal. Melihat kondisi tersebut, diperlukan penetapan status tanggap darurat oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat guna mempercepat dan mengoptimalkan penanganan bencana.
BNPB mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan banjir, agar tetap waspada dan mengutamakan keselamatan diri serta keluarga. Warga diminta segera mengungsi ke tempat aman jika kondisi memburuk dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah serta petugas di lapangan.[*]





