ARTIKEL | KLIKGENZ – Drama Korea kini bukan sekadar tontonan hiburan. Bagi sebagian anak muda, tayangan ini justru menjadi jendela awal untuk mengenal dunia perkuliahan dan profesi tertentu. Dari ruang sidang hingga perusahaan teknologi, drama Korea kerap menyajikan gambaran kehidupan akademik dan dunia kerja yang penuh tantangan, ambisi, serta dilema moral.
Salah satu contoh yang cukup kuat adalah drama Law School. Drama ini menampilkan kerasnya persaingan antar mahasiswa hukum, tekanan akademik yang tinggi, serta risiko besar yang harus dihadapi ketika berhadapan dengan kasus-kasus hukum. Lewat alur cerita tersebut, penonton diajak memahami bahwa memilih jurusan hukum bukan semata demi citra “keren”, melainkan membutuhkan komitmen, integritas, dan ketahanan mental yang tidak ringan.
Tokoh Kang Sol A dan Han Joon Hwi menjadi representasi mahasiswa yang pantang menyerah. Keduanya tidak digambarkan sempurna, namun justru itulah letak kekuatannya. Kerja keras, konsistensi, dan keberanian menghadapi kegagalan menjadi pesan utama yang dapat memotivasi penonton—terutama pelajar yang sedang mencari arah dan semangat belajar. Drama ini seakan mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya lahir dari kecerdasan, tetapi juga dari proses panjang yang dijalani dengan tekun.
Selain dunia hukum, drama Big Man turut menghadirkan potret dunia teknologi dan bisnis. Kisah Kim Ji-Hyuk, sosok sederhana yang terjebak dalam konflik perusahaan konglomerat berbasis teknologi, memperlihatkan bagaimana dunia industri modern sarat dengan intrik, manipulasi, dan tekanan kekuasaan. Meski fokus pada konflik perusahaan, drama ini tetap menampilkan nilai-nilai penting seperti inovasi, strategi, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan.
Melalui karakter-karakter yang digambarkan profesional dan visioner, Big Man dapat menjadi pemantik minat bagi siswa untuk mengenal dunia teknik dan teknologi. Drama ini menunjukkan bahwa menjadi bagian dari industri teknologi bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga soal ketekunan, kreativitas, dan keberanian mengambil keputusan besar.
Namun demikian, penting untuk disadari bahwa drama Korea tetaplah sebuah karya fiksi. Menjadikannya sebagai referensi utama dalam memilih jurusan kuliah tentu tidak bijak. Drama seharusnya diposisikan sebagai gambaran awal atau inspirasi, bukan sebagai penentu mutlak masa depan.
Pada akhirnya, tidak ada yang salah jika drama Korea menjadi motivasi awal dalam menentukan pilihan studi, selama keputusan tersebut tetap didasarkan pada minat, kemampuan, dan tujuan hidup yang jelas. Drama hanyalah pintu pembuka. Pilihan jurusan, dan arah masa depan, sepenuhnya berada di tangan kita sendiri.
Lalu, pertanyaannya: apakah kita memilih jurusan kuliah karena tren dan tontonan semata, atau karena benar-benar memahami siapa diri kita dan ke mana ingin melangkah?
Penulis:
Dwi Ayu Agustin, Mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Sumber: bidikin.com





