Bencana Alam Picu Lonjakan Inflasi Desember 2025, Aceh Tembus 6,71 Persen

Kemendagri sebut inflasi akhir 2025 dipicu bencana, bukan faktor alami

Ilustrasi

JAKARTA | KLIKGENZ — Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Sekjen Kemendagri) Tomsi Tohir mengungkapkan bahwa lonjakan inflasi pada Desember 2025 tidak terjadi secara alami, melainkan dipicu oleh bencana alam yang melanda sejumlah provinsi di Indonesia.

Menurut Tomsi, Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara menjadi wilayah dengan kenaikan harga tertinggi menjelang akhir tahun. Padahal, secara normal daerah-daerah tersebut tidak seharusnya mencatat inflasi setinggi itu.

“Angka Aceh misalnya sampai 6,71 persen. Itu bukan angka normal, itu terjadi karena ada musibah,” ujar Tomsi dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2025 di Jakarta, Senin (12/1/2026).

Tomsi menjelaskan, bencana yang terjadi menjelang akhir Desember menyebabkan gangguan distribusi dan pasokan, sehingga harga sejumlah komoditas melonjak tajam di daerah terdampak.

Lonjakan tersebut turut menarik inflasi nasional Desember 2025 sebesar 0,64 persen, yang akhirnya mendorong inflasi tahunan menjadi 2,92 persen. Meski mengalami tekanan besar akibat bencana, Tomsi menegaskan inflasi Indonesia masih berada dalam batas aman.

“Dengan kondisi saudara-saudara kita terkena musibah, lalu terjadi kenaikan 0,64 persen di akhir tahun, totalnya tetap 2,92 persen. Itu masih angka yang baik,” katanya.

Pemerintah menetapkan batas inflasi ideal di kisaran 1,5–3,5 persen, dengan titik tengah 2,5 persen. Dengan capaian 2,92 persen, inflasi Indonesia masih berada dalam koridor sasaran nasional.

Tomsi juga mengingatkan pemerintah daerah agar tidak terlambat merespons lonjakan harga. Ia meminta Inspektorat Jenderal Kemendagri menyusun “rapor inflasi daerah”.

Rapor tersebut akan memuat wilayah yang mengalami inflasi tinggi dalam waktu lama, berikut penyebab dan komoditas pemicunya.

“Yang tinggi berbulan-bulan karena terlambat mengatasinya, itu harus kita evaluasi,” tegasnya.

Evaluasi ini akan menjadi dasar bagi pemerintah pusat untuk menekan gejolak harga sejak dini, agar lonjakan inflasi akibat bencana atau gangguan pasokan tidak berlarut-larut.

Sementara itu, Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS), Windhiarso Putranto, menyebut inflasi Desember 2025 juga dipengaruhi oleh tekanan harga global.

“Inflasi kita tidak hanya didorong oleh harga barang dan jasa di dalam negeri, tetapi juga perkembangan harga global,” ujarnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga emas dunia dan minyak mentah internasional berdampak pada harga dalam negeri, khususnya bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Selain itu, kebijakan domestik seperti penetapan harga jual hasil tembakau nasional turut mendorong inflasi rokok.

Di sisi lain, pemerintah telah menjalankan kebijakan penahan tekanan harga, salah satunya melalui diskon tiket transportasi selama libur Natal dan Tahun Baru 2025.

Namun, Windhiarso menegaskan tekanan terbesar tetap berasal dari faktor cuaca dan bencana hidrometeorologi.

“Curah hujan tinggi sepanjang 2025, ditambah bencana di sejumlah daerah, turut mempengaruhi inflasi sepanjang tahun,” katanya. [*]

Baca Juga  Gempa 6,3 Guncang Aceh: Belasan Atlet Luka, Masjid dan Gedung Pemerintahan Rusak