Protes Iran Paling Berdarah, Lebih dari 2.000 Orang Tewas dalam Dua Pekan

Pemadaman internet, penahanan massal, dan pengerahan aparat menandai eskalasi kekerasan terparah sejak Revolusi Islam 1979.

Foto: Warga Iran menghadiri unjuk rasa pro-pemerintah di Taheran, Iran, Senin (12/1/2026). (Stringer/WANA via REUTERS)

Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat mencatat, hingga Selasa (13/1/2026), sedikitnya 2.003 orang tewas akibat aksi protes yang berlangsung lebih dari dua pekan. Angka tersebut jauh melampaui jumlah korban dalam protes besar sebelumnya, termasuk demonstrasi Mahsa Amini pada 2022.

Untuk pertama kalinya, media pemerintah Iran mengakui adanya korban jiwa. Televisi nasional menyiarkan pernyataan seorang pejabat yang menyebut negara memiliki “banyak martir,” seraya berdalih pemerintah tidak merilis data sebelumnya karena kondisi korban yang mengalami luka parah.

Pengakuan itu muncul setelah para aktivis HAM lebih dahulu mempublikasikan laporan korban, yang menimbulkan tekanan internasional terhadap Teheran.

Dari Krisis Ekonomi ke Penentangan Rezim

Aksi unjuk rasa awalnya dipicu kemarahan publik terhadap memburuknya kondisi ekonomi Iran. Namun dalam waktu singkat, protes berkembang menjadi gerakan politik terbuka yang menentang sistem teokrasi, khususnya kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang kini berusia 86 tahun.

Baca Juga  BMKG Ungkap Potensi Tsunami Danau Maninjau, Dipicu Gempa Segmen Kajai–Talamau

Gambar-gambar dari Teheran yang diperoleh The Associated Press memperlihatkan grafiti dan teriakan massa yang menyerukan kematian bagi Khamenei—sebuah tindakan yang di Iran dapat berujung hukuman mati.

Trump Ikut Bereaksi, Iran Balas Menuding

Tak lama setelah laporan korban terbaru beredar, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menulis di platform Truth Social, menyerukan warga Iran untuk terus melakukan perlawanan dan mengklaim bantuan “sedang dalam perjalanan.”

Namun beberapa jam kemudian, Trump meredam pernyataannya dengan mengatakan pemerintah AS masih menunggu laporan yang benar-benar terverifikasi sebelum mengambil langkah lebih jauh.

Peringatan keras datang dari Teheran. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, secara terbuka menuding Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pertumpahan darah di Iran.

Ribuan Ditahan, Internet Diputus

HRANA merinci bahwa dari total korban tewas, 1.850 orang adalah pengunjuk rasa, sementara 135 orang berafiliasi dengan pemerintah. Sembilan anak dan sembilan warga sipil yang tidak terlibat langsung dalam protes turut menjadi korban. Selain itu, lebih dari 16.700 orang dilaporkan ditahan.

Baca Juga  Reshuffle Kabinet Merah Putih: Presiden Prabowo Lantik 5 Pejabat Baru di Istana Negara

Pemutusan akses internet di sebagian besar wilayah Iran membuat pemantauan situasi semakin sulit. Meski demikian, sejumlah saksi yang baru kembali terhubung dengan dunia luar menggambarkan Teheran dalam kondisi nyaris lumpuh, dengan aparat keamanan memenuhi pusat kota, gedung-gedung pemerintah terbakar, serta ATM dirusak.

Khamenei: “Bangsa Iran Kuat dan Mengetahui Musuhnya”

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, Ayatollah Khamenei memuji demonstrasi besar-besaran pendukung pemerintah yang digelar di berbagai wilayah Iran.

“Ini adalah peringatan bagi politisi Amerika untuk menghentikan tipu daya mereka,” ujar Khamenei. Ia menegaskan bahwa bangsa Iran “kuat, berdaulat, dan mengetahui siapa musuhnya.”

Sebelumnya, Jaksa Agung Iran telah memperingatkan bahwa siapa pun yang terlibat dalam aksi protes dapat dicap sebagai “musuh Tuhan”, sebuah tuduhan berat yang berpotensi berujung hukuman mati. [*]

Sumber : CNBC