Pengeroyokan Guru oleh Siswa, Alarm Keras Krisis Etika dan Hormat di Sekolah

Kasus pengeroyokan guru oleh siswa menjadi peringatan serius tentang krisis etika, disiplin, dan lunturnya rasa hormat di lingkungan sekolah.

Foto ilustrasi AI

Ketika Etika Pelajar Diuji: Hormat kepada Guru adalah Pilar Pendidikan Bangsa

EDITORIAL | KLIKGENZ  – Peristiwa pengeroyokan seorang guru oleh sejumlah siswa di lingkungan sekolah beberapa waktu lalu menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan. Insiden tersebut bukan sekadar persoalan disiplin internal sekolah, melainkan cerminan rapuhnya etika dan rasa hormat sebagian pelajar terhadap pendidik.

Terlepas dari latar belakang kejadian dan proses mediasi yang telah ditempuh, tindakan kekerasan terhadap guru tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun. Sekolah seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar dan berdialog, bukan tempat lahirnya intimidasi dan aksi main hakim sendiri.

Redaksi menilai, kasus ini menunjukkan kegagalan bersama dalam menanamkan nilai dasar pendidikan: adab sebelum ilmu. Sikap tidak sopan kepada guru, perlawanan emosional, hingga pengeroyokan adalah bentuk penyimpangan serius dari tujuan pendidikan nasional.

Dalam konteks nilai Pancasila, khususnya sila kedua tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, perilaku kekerasan jelas bertentangan dengan prinsip hidup berbangsa. Guru sebagai pendidik memiliki kedudukan terhormat yang wajib dijaga, baik secara moral maupun sosial.

Siswa tentu memiliki hak untuk menyampaikan keberatan, merasa tidak adil, atau menolak perlakuan yang dianggap keliru. Namun, hak tersebut harus disalurkan melalui cara yang santun, bermartabat, dan sesuai mekanisme sekolah, bukan dengan kekerasan kolektif yang justru memperparah keadaan.

Peristiwa ini juga menjadi refleksi bahwa pendidikan karakter belum sepenuhnya menjadi roh pembelajaran di sekolah. Pengetahuan tanpa etika hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin empati dan pengendalian diri.

Redaksi memandang, tanggung jawab pembentukan karakter tidak hanya berada di pundak guru. Orang tua, lingkungan, dan negara memiliki peran yang sama penting. Penguatan komunikasi, pendampingan psikologis, serta penegakan tata tertib yang adil harus menjadi agenda bersama.

Kasus pengeroyokan guru ini semestinya menjadi pembelajaran kolektif, bukan sensasi sesaat. Jika rasa hormat kepada guru terus terkikis, maka yang terancam bukan hanya wibawa sekolah, melainkan masa depan pendidikan dan karakter bangsa.

Sudah waktunya semua pihak kembali meneguhkan satu nilai dasar:
hormati guru, jaga etika, dan selesaikan konflik dengan akal sehat, bukan kekerasan.

— Redaksi klikgenz.com

Baca Juga  Drama Korea dan Jurusan Kuliah: Inspirasi Anak Muda Menentukan Masa Depan