Agam  

Teror “Manusia Bertopeng” di Agam, Warga Trauma Pascabencana Banjir Bandang

Sosok misterius bercelana dalam sambil membawa parang menghantui warga Palembayan, Kabupaten Agam, memicu ketakutan massal di tengah luka pascabencana banjir bandang.

Ilustrasi teror “Manusia Bertopeng” yang meresahkan warga Palembayan, Kabupaten Agam. Sosok misterius bercelana dalam dan membawa parang dilaporkan kerap muncul pada malam hari, memicu ketakutan warga di tengah kondisi pascabencana banjir bandang. (Ilustrasi)

AGAM | KLIKGENZ – Ketakutan kembali menyelimuti warga Maua Hilia, Jorong Kayu Pasak Timur, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Di tengah upaya pemulihan pascabencana banjir bandang, warga kini diteror oleh kemunculan sosok misterius yang dijuluki “Manusia Bertopeng”.

Teror ini tak hanya memicu keresahan, tetapi juga memperdalam trauma warga yang masih berjuang bangkit dari bencana besar pada akhir November 2025 lalu. Penampakan sosok tersebut viral di media sosial dan menjadi perbincangan hangat masyarakat setempat.

Penampakan Tak Lazim dan Mengintimidasi

Kepala Jorong Kayu Pasak Timur, Yoka, membenarkan adanya laporan warga terkait teror tersebut. Berdasarkan kesaksian yang dihimpun, pelaku memiliki ciri-ciri yang tidak biasa dan menimbulkan ketakutan mendalam.

Sosok tersebut dilaporkan hanya mengenakan celana dalam, menutupi wajah dengan topeng atau masker, serta membawa senjata tajam jenis parang. Ia kerap muncul secara tiba-tiba di lokasi gelap, mulai dari pinggir jalan hingga area pepohonan.

Baca Juga  Bupati Padang Pariaman Bahas Pengembangan Wisata di Tapakis dan Katapiang

Muncul Berulang, Sempat Kejar Warga

Menurut Yoka, gangguan pertama terjadi pada Minggu (11/1/2026), namun belum mendapat perhatian serius. Situasi berubah drastis ketika pelaku kembali muncul pada Rabu malam (14/1/2026) dan dilaporkan sempat mengejar warga.

“Awalnya warga mengira hanya isu biasa. Tapi pada kemunculan kedua, pelaku sudah mulai mengejar, sehingga kepanikan tidak bisa dihindari,” ujar Yoka saat dikonfirmasi, Jumat (16/1/2026).

Menariknya, pelaku disebut lebih sering menampakkan diri di hadapan warga perempuan. Sementara warga laki-laki yang mencoba mengejar hanya melihat bayangan dari belakang sebelum sosok itu menghilang ke kegelapan.

Disisir 100 Orang, Pelaku Belum Tertangkap

Aparat gabungan bersama masyarakat langsung melakukan patroli besar-besaran. Sekitar 100 orang, terdiri dari kepolisian, Brimob, perangkat jorong, dan warga, dikerahkan untuk menyisir sejumlah titik rawan.

Baca Juga  Lesunya Ekonomi, Warga Sumbar Ogah Bayar Pajak Kendaraan?

Namun hingga kini, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Minimnya penerangan jalan dan kondisi medan yang gelap menjadi kendala utama pencarian.

“Medan sulit dan penerangan sangat terbatas. Meski pencarian dilakukan ramai-ramai, pelaku belum berhasil ditemukan,” jelas Yoka.

Aktivitas Warga Lumpuh, Siskamling Diperketat

Dampak teror ini terasa signifikan. Banyak warga, khususnya perempuan, memilih tidak keluar rumah saat malam hari. Aktivitas sosial pun menurun drastis.

Sebagai langkah lanjutan, perangkat nagari bersama tokoh masyarakat dijadwalkan menggelar rapat darurat guna menyusun strategi pengamanan dan memperketat sistem keamanan lingkungan (Siskamling).

Warga berharap aparat segera mengungkap identitas pelaku agar situasi kembali kondusif dan rasa aman dapat pulih sepenuhnya.[*]

Sumber: Tribun Padang