BALI | KLIKGENZ – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa temuan dua kasus yang disebut sebagai super flu di Bali bukan merupakan wabah baru maupun kejadian luar biasa nasional. Virus tersebut dipastikan sebagai jenis influenza musiman yang rutin muncul setiap tahun dengan tingkat kematian yang sangat rendah.
Menkes meminta masyarakat tidak panik dan tetap bersikap rasional menyikapi informasi yang berkembang di ruang publik. Menurutnya, kasus yang sempat menjadi perhatian itu sebenarnya terjadi sejak Oktober 2025 dan kedua pasien telah dinyatakan sembuh sejak akhir tahun lalu.
“Influenza ini memang selalu ada setiap tahun. Yang penting masyarakat tahu bahwa tingkat fatalitasnya sangat rendah, jadi tidak perlu khawatir berlebihan,” ujar Budi Gunadi Sadikin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (16/1/2026).
Ia menjelaskan, kedua pasien di Bali berusia antara 40 hingga 50 tahun dan sempat mengalami gejala demam disertai sesak napas. Setelah menjalani perawatan medis beberapa hari di rumah sakit, kondisi pasien membaik dan pulih sepenuhnya.
“Sampel virusnya baru dianalisis laboratorium Kementerian Kesehatan dan hasilnya keluar pertengahan Januari ini. Namun pasien sudah lama sembuh,” jelasnya.
Menkes menambahkan, kemunculan influenza mengikuti siklus musiman yang biasanya meningkat saat daya tahan tubuh menurun. Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk memperkuat sistem imun melalui pola hidup sehat, konsumsi gizi seimbang, istirahat cukup, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Sementara itu, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menilai pemerintah perlu lebih terbuka dalam menyampaikan data pemantauan influenza secara berkala kepada publik.
“Meski risikonya dinilai rendah, di banyak negara influenza tetap dipantau ketat. Akan lebih baik jika Indonesia juga rutin merilis data mingguan agar masyarakat memperoleh gambaran yang jelas dan akurat,” kata Tjandra.
Ia mencontohkan praktik di sejumlah negara seperti Tiongkok dan Taiwan yang secara aktif mempublikasikan laporan influenza melalui lembaga kesehatan resmi. Menurutnya, keterbukaan informasi menjadi kunci menjaga kepercayaan publik sekaligus meningkatkan kewaspadaan tanpa menciptakan kepanikan. [*]






