INTERNASIONAL | KLIKGENZ – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu polemik global usai mengklaim tengah melakukan pembicaraan dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terkait rencana penguasaan Greenland. Trump menilai pulau terbesar di dunia itu memiliki nilai strategis krusial bagi kepentingan keamanan nasional AS.
“NATO telah bekerja sama dengan kami soal Greenland. Kami sangat membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional,” ujar Trump kepada wartawan, Jumat (17/1), seperti dikutip Anadolu Ajansi.
Menurut Trump, tanpa penguasaan atas Greenland, Amerika Serikat akan menghadapi celah besar dalam sistem pertahanannya, terutama terkait proyek pertahanan masa depan yang ia sebut sebagai Golden Dome. Meski demikian, Trump tidak merinci secara detail inisiatif militer yang dimaksud.
Tak hanya mengandalkan diplomasi, Trump juga membuka kemungkinan menggunakan instrumen tarif sebagai alat tekanan terhadap negara-negara yang menentang ambisi Washington atas Greenland.
“Saya mungkin akan melakukan itu untuk Greenland juga,” katanya, merujuk pada ancaman tarif 25 persen yang sebelumnya ia lontarkan terhadap Prancis dalam isu harga obat-obatan.
Pernyataan tersebut langsung mendapat penolakan keras dari Denmark dan pemerintah Greenland. Keduanya menegaskan bahwa Greenland merupakan wilayah otonom di bawah kedaulatan Denmark dan tidak dapat diperjualbelikan atau diakuisisi oleh negara lain.
Kendati demikian, komunikasi diplomatik tetap berlangsung. Pejabat tinggi Denmark dilaporkan telah bertemu dengan Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio di Gedung Putih, Rabu (15/1). Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen menyebut pertemuan itu berlangsung terbuka dan konstruktif, meski mengakui masih terdapat perbedaan mendasar antara kedua pihak.
Di dalam negeri Amerika Serikat sendiri, rencana Trump justru menuai penolakan luas. Jajak pendapat terbaru CNN yang dilakukan oleh SSRS menunjukkan sekitar 75 persen warga AS menentang upaya penguasaan Greenland. Hanya 25 persen responden yang menyatakan mendukung rencana tersebut.
Bahkan di kalangan pendukung Trump, sikap publik terbelah. Sebanyak 50 persen pendukung Partai Republik dan independen yang cenderung ke Partai Republik mendukung gagasan tersebut, sementara 50 persen lainnya menolak. Sebaliknya, penolakan hampir mutlak datang dari pemilih Partai Demokrat, dengan 94 persen menyatakan menentang dan 80 persen di antaranya menolak dengan keras.
Isu Greenland pun kini bukan hanya menjadi persoalan geopolitik internasional, tetapi juga ujian dukungan domestik terhadap arah kebijakan luar negeri Trump. [*]






