Tren  

Rupiah Nyaris Rp17.000 per Dolar AS, Tekanan Global dan Defisit Fiskal Jadi Sorotan

Nilai tukar rupiah terus melemah di awal 2026 seiring sentimen geopolitik global, penguatan dolar AS, dan kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran Indonesia.

Redaksi
Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini (19/1) nyaris menyentuh level Rp17.000 per dolar AS. Adapun sentimen penggerak masih didominasi sentimen dari global. Ilustrasi (CNNIndonesia/Safir Makki).

JAKARTA | KLIKGENZ – Pergerakan nilai tukar rupiah kembali berada di zona rawan. Pada perdagangan Senin (19/1/2026), rupiah nyaris menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS, dipicu kombinasi tekanan global dan kekhawatiran domestik.

Berdasarkan pantauan Bloomberg, rupiah pada pukul 14.34 WIB berada di posisi Rp16.956 per dolar AS. Sepanjang hari, mata uang Garuda sempat menyentuh titik terlemah di level Rp16.960 per dolar AS pada pukul 13.44 WIB.

Sejak pembukaan pagi, rupiah sudah menunjukkan tren melemah. Mata uang domestik dibuka di level Rp16.906 per dolar AS, turun 19 poin atau sekitar 0,11 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari luar negeri, tetapi juga diperkuat oleh kondisi fiskal dalam negeri.

Menurutnya, defisit anggaran Indonesia yang mendekati batas maksimal 3 persen menjadi sinyal yang kurang positif bagi pasar keuangan.
“Defisit anggaran mendekati 3 persen membuat pasar melihat ada tekanan fiskal. Dalam kondisi seperti ini, intervensi Bank Indonesia saja tidak cukup kuat menahan pelemahan,” ujar Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Senin (19/1).

Dari sisi global, sentimen negatif datang dari meningkatnya tensi geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia. Perang dagang yang melibatkan Uni Eropa dan China, kebijakan tarif khusus Amerika Serikat, hingga isu geopolitik di Iran dan Greenland, memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman.

Situasi tersebut diperparah oleh dinamika politik internal Amerika Serikat, termasuk pemanggilan Ketua The Fed Jerome Powell oleh Jaksa Agung AS, yang menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter global.

Ibrahim memperkirakan volatilitas rupiah masih akan berlanjut sepanjang kuartal I 2026.
“Rupiah berpotensi bergerak di rentang Rp16.500 sampai Rp17.200 per dolar AS. Dalam dua hari ke depan, peluang menyentuh Rp17.000 cukup besar karena pasar masih wait and see menunggu hasil rapat BI,” jelasnya.

Ia juga menilai Bank Indonesia berpeluang memangkas suku bunga acuan pada rapat 20 Januari 2026, meski dampaknya terhadap rupiah diperkirakan terbatas.
“Kalau pun ada pelemahan, kemungkinan sekitar 10–20 poin,” tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra. Menurutnya, eskalasi konflik geopolitik global membuat investor semakin memburu dolar AS.

“Ketegangan geopolitik, termasuk isu konsentrasi pasukan Eropa di Greenland dan intervensi AS di Iran, mendorong penguatan dolar sebagai aset safe haven,” kata Ariston.

Selain faktor global, Ariston menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belum mendekati 6 persen sebagai beban tambahan bagi rupiah.
“Meskipun stimulus sudah digelontorkan pemerintah dan BI, tekanan terhadap rupiah masih terasa,” ujarnya. [*]