Pendapatan Presiden FIFA Gianni Infantino Tembus Rp100 Miliar per Tahun

Kenaikan signifikan gaji bos FIFA menjadi sorotan di tengah laporan keuangan federasi sepak bola dunia yang melonjak.

Rafi Dirga Maulana
Dok : Detiksport.com

ZURICH  | KlikGenZ– Laporan keuangan terbaru yang dirilis oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) mengungkap fakta mengejutkan mengenai pendapatan sang Presiden, Gianni Infantino. Pria asal Swiss tersebut tercatat mengantongi pendapatan total yang menembus angka 6 juta Swiss Franc atau setara dengan lebih dari Rp100 miliar sepanjang tahun 2025.

Lonjakan pendapatan ini merupakan akumulasi dari gaji pokok serta berbagai bonus yang diterimanya. Berdasarkan data tahunan FIFA, gaji pokok Infantino mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, mencerminkan pertumbuhan pendapatan komersial federasi yang juga menyentuh rekor baru.

Kenaikan gaji ini tidak lepas dari keberhasilan FIFA dalam mengamankan berbagai kontrak hak siar dan sponsor besar menjelang turnamen-turnamen skala global. Selain gaji tetap, kompensasi total Infantino juga mencakup tunjangan variabel dan bonus kinerja yang dikaitkan dengan stabilitas keuangan organisasi.

Bukan kali ini saja angka pendapatan orang nomor satu di FIFA tersebut menjadi sorotan publik. Sejak menjabat, struktur gaji kepemimpinan FIFA memang telah mengalami reformasi transparan, namun besaran angka yang diterima Infantino tetap memicu perdebatan di kalangan pemerhati sepak bola, terutama terkait kesenjangan dengan alokasi pengembangan sepak bola di negara-negara kecil.

Di sisi lain, FIFA mengklaim bahwa peningkatan pendapatan pejabat teras mereka sejalan dengan performa finansial organisasi yang sehat. Selama masa kepemimpinan Infantino, FIFA berhasil memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan nilai jual kompetisi internasional, termasuk rencana ekspansi Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub yang lebih komersial.

Meskipun menuai beragam reaksi, otoritas keuangan FIFA menegaskan bahwa penentuan angka gaji tersebut telah melalui proses peninjauan oleh komite kompensasi independen. Mereka menilai angka tersebut kompetitif jika dibandingkan dengan eksekutif di organisasi olahraga internasional lainnya.

Hingga saat ini, fokus FIFA tetap tertuju pada optimalisasi pendapatan untuk siklus Piala Dunia mendatang, yang diprediksi akan terus mengalirkan dana segar ke kas federasi sekaligus mempertebal kantong jajaran petingginya.