Tren  

BRIN Kembangkan Pelapis Kertas Berbasis Lemak Nabati, Solusi Kemasan Makanan Tanpa Plastik

Riset BRIN menawarkan alternatif ramah lingkungan untuk kemasan makanan kertas yang selama ini dilapisi plastik dan berisiko bagi kesehatan.

Redaksi
Kertas berlapis minyak nabati hasil riset BRIN. Sampel dengan kode CA, LI, SO, dan WA tidak tembus air dan minyak. (Foto: Zatil Afrah Athaillah/PR Kimia Molekuler BRIN).

JAKARTA | KLIKGENZ – Penggunaan kemasan makanan berbahan kertas semakin masif, terutama untuk makanan dan minuman siap saji yang dibawa pulang. Praktis, ringan, dan murah menjadi alasan utama. Namun, di balik itu, tersimpan persoalan serius terkait keberlanjutan lingkungan dan keamanan pangan.

Agar tidak bocor saat bersentuhan dengan air atau minyak, kemasan kertas umumnya dilapisi plastik seperti polyethylene. Lapisan ini membuat kemasan sulit didaur ulang dan tidak dapat dikompos secara sempurna. Lebih jauh, komponen plastik berpotensi bermigrasi ke makanan atau minuman dan berdampak buruk bagi kesehatan.

Melihat persoalan tersebut, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Zatil Afrah Athaillah, mengembangkan metode pelapisan kertas menggunakan lemak nabati sebagai alternatif bahan pelapis ramah lingkungan.

“Lapisan pada kertas kemasan berfungsi mencegah migrasi air dan minyak. Tetapi jika bahannya plastik, muncul persoalan keberlanjutan dan keamanan pangan,” ujar Zatil saat diwawancarai Humas BRIN, Senin (19/1).

Riset ini berangkat dari tiga pertimbangan utama, yakni kepraktisan, keberlanjutan lingkungan, dan keamanan pangan. Penelitian mulai dikerjakan sejak awal 2025 dengan menguji berbagai jenis minyak nabati sebagai bahan pelapis kertas.

Beberapa minyak yang diuji antara lain minyak walnut, kemiri, kedelai, dan linseed. Minyak-minyak tersebut dipilih karena memiliki karakteristik kimia yang mampu membentuk lapisan pelindung di permukaan kertas. Sementara itu, minyak sawit dan minyak zaitun juga diuji, namun belum memenuhi kriteria karena masih tembus air dan minyak.

Keberhasilan pelapisan diuji melalui serangkaian pengujian, mulai dari metode paling sederhana hingga analisis lanjutan. Uji awal dilakukan dengan meneteskan air dan minyak di permukaan kertas, kemudian diamati apakah terjadi rembesan ke bagian bawah.

Pengamatan dilakukan hingga 60 menit. Jika kertas tidak mengalami perubahan tampilan dan tidak tembus air maupun minyak selama periode tersebut, pelapisan dinilai berhasil.

“Batas 60 menit itu pertimbangan teknis pengujian, bukan berarti setelah itu kertas otomatis bocor. Kalau diperlukan, pengujian bisa dilakukan lebih lama,” jelas Zatil.

Selain itu, pengamatan juga dilakukan menggunakan mikroskop 3D untuk melihat bentuk tetesan air dan mengukur sudut kontaknya. Pada kertas tanpa pelapis, tetesan air cenderung melebar. Sebaliknya, pada kertas berlapis minyak nabati, tetesan air tampak lebih membulat dengan sudut kontak mendekati 90 derajat, menandakan sifat hidrofobik atau tahan air.

Pengujian lanjutan mencakup uji kekuatan dan kelenturan kertas menggunakan texture analyzer, analisis gugus fungsi dengan FTIR, uji kristalinitas melalui X-ray diffraction (XRD), uji kekentalan minyak, analisis komposisi asam lemak, serta pengamatan morfologi kertas menggunakan scanning electron microscopy (SEM).[*]