PADANG PARIAMAN | KLIKGENZ — Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Padang Pariaman Anton Wira Tanjung tancap gas mendorong percepatan pengelolaan objek wisata Rumah Putiah di Nagari Kapalo Hilalang. Keseriusan itu terlihat dalam rapat khusus bersama Wali Nagari Kapalo Hilalang dan jajaran, Senin (19/1/2026).
Rapat tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Rumah Putiah tak lagi diposisikan sebagai objek wisata biasa, melainkan aset strategis daerah yang akan dikembangkan secara terencana, profesional, dan berkelanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan pemerintah nagari.
Dalam pertemuan tersebut, Anton Wira Tanjung secara langsung menyerahkan Surat Keputusan (SK) Tim Percepatan Pengelolaan Rumah Putiah sebagai dasar legal sekaligus penanda dimulainya langkah konkret di lapangan.
“Rumah Putiah memiliki potensi besar, bukan hanya dari sisi alam, tetapi juga sejarah. Pengelolaannya harus jelas arah, berbasis kolaborasi, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat nagari,” tegas Anton Wira Tanjung dalam rapat tersebut.
Tak berhenti di situ, rapat juga membahas rencana pelaksanaan rapat lanjutan bersama Tim Percepatan untuk menyamakan visi dan langkah kerja. Salah satu agenda krusial yang disiapkan adalah penyusunan Analisis SWOT sebagai bahan pemetaan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan sebelum konsep pengelolaan dipaparkan langsung kepada Bupati Padang Pariaman.
Bukan Sekadar Pemandian, Rumah Putiah Simpan Jejak Sejarah Kolonial

Rumah Putiah yang terletak di Nagari Kapalo Hilalang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, dikenal sebagai pemandian air dingin alami yang berada tak jauh dari Air Terjun Lubuak Bonta. Namun, daya tarik kawasan ini tak berhenti pada panorama alam semata.
Kawasan Rumah Putiah juga menyimpan jejak sejarah kolonial Belanda. Berbagai peninggalan bersejarah masih ditemukan di lokasi tersebut, mulai dari fragmen keramik berbentuk vas dan piring, bata utuh dengan cap atau watermark, hingga sisa-sisa bangunan kuno.
“Di kawasan ini terdapat sisa bangunan Rumah Putiah atau Tuan Semar, bekas bangunan pengintai, barak pekerja, sisa bangunan PLTA, hingga bekas pabrik pengeringan kopi,” ungkap salah seorang peserta rapat.
Dorong Desa Wisata, Ekonomi Nagari Ditarget Ikut Bergerak

Anton Wira Tanjung menegaskan, pengelolaan Rumah Putiah ke depan harus mampu menjadi penggerak ekonomi nagari, membuka ruang usaha bagi masyarakat, sekaligus memperkuat identitas budaya dan sejarah daerah.
Dengan kekayaan alam dan nilai historis yang dimiliki, Rumah Putiah diarahkan menjadi desa wisata unggulan Padang Pariaman yang tidak hanya menjual keindahan, tetapi juga narasi sejarah dan kearifan lokal.
Jika dikelola secara konsisten, Rumah Putiah diproyeksikan menjadi ikon wisata baru Padang Pariaman yang berdaya saing di tingkat regional. [*]







