JAKARTA | KLIKGENZ – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena La Nina lemah yang saat ini memengaruhi Indonesia akan terus melemah hingga Maret 2026. Memasuki April 2026, kondisi iklim nasional diperkirakan kembali netral atau normal, tanpa pengaruh El Nino maupun La Nina.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa peluang La Nina lemah berkembang menjadi kategori kuat sangat kecil. Hal itu didasarkan pada hasil pemantauan anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 Samudra Pasifik.
“Berdasarkan pengalaman panjang, La Nina lemah jarang berkembang menjadi kuat. Indikator utamanya kami pantau dari Nino 3.4 di perairan Pasifik,” ujar Teuku, dikutip dari cnbcindonesia.com.
Iklim Normal Jadi Momentum Swasembada Pangan
BMKG menyebutkan, fase pelemahan La Nina akan berlangsung hingga akhir Maret 2026. Setelah itu, mulai April hingga akhir tahun, Indonesia diprediksi berada dalam kondisi iklim stabil.
“Mulai April sampai akhir tahun nanti cenderung normal. Tidak ada El Nino, tidak ada La Nina,” jelasnya.
Kondisi iklim yang lebih terukur tersebut diharapkan menjadi momentum penting bagi peningkatan produktivitas sektor pertanian, sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional.
“Harapannya tentu produktivitas pangan bisa meningkat ketika iklim berada dalam kondisi normal,” kata Teuku.
El Nino 2027 Masih Dalam Pemantauan
Meski tahun 2026 diproyeksikan relatif aman dari gangguan iklim ekstrem, BMKG tetap melakukan pemantauan jangka panjang. Potensi kemunculan El Nino pada tahun 2027 masih menjadi perhatian.
“Nanti akan ada prediksi lanjutan dari kedeputian klimatologi. Bisa saja El Nino terjadi di 2027, yang berdampak pada musim kemarau lebih panjang,” ujarnya.
Akhir Musim Hujan Tak Serentak
BMKG juga menekankan bahwa akhir musim hujan tidak terjadi bersamaan di seluruh Indonesia. Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan memasuki akhir musim hujan pada Februari–Maret, lalu berlanjut ke musim kemarau pada April hingga September.
Sementara itu, wilayah yang berada di sekitar garis ekuator, khususnya Sumatra bagian utara, memiliki pola iklim berbeda.
“Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mengalami dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau dalam setahun,” terang Teuku.
Saat ini, wilayah Aceh hingga Sumatra Barat sudah mulai memasuki awal musim kemarau. Meski tidak ekstrem, BMKG mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap perlu diwaspadai.
“Memang belum terlalu kering, tapi potensi karhutla tetap ada,” pungkasnya. [*]







