SUMBAR | KLIKGENZ — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Barat mengungkap fakta krusial terkait perjalanan ekonomi daerah ini selama tiga dekade terakhir. Hasil kajian menunjukkan, rangkaian krisis dan bencana besar tidak hanya menimbulkan perlambatan sesaat, tetapi meninggalkan dampak struktural jangka panjang yang membuat pertumbuhan ekonomi Sumbar tertahan di bawah rata-rata nasional.
Temuan itu dipaparkan dalam kegiatan diseminasi hasil penelitian BI Sumbar yang digelar di Aula BI Sumbar, Rabu (28/1/2026).
Kepala Perwakilan BI Sumbar, Abdul Majid Ikram, menjelaskan kajian tersebut dilakukan bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Padang dan Universitas Negeri Padang (UNP). Penelitian menelusuri dinamika ekonomi Sumbar sejak krisis moneter 1998, gempa besar 2009, periode pra dan pascapandemi Covid-19, hingga tahun 2025.
“Berbagai guncangan besar tersebut terbukti tidak hanya menekan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, tetapi juga mengubah struktur ekonomi Sumbar secara mendalam,” ujar Majid.
Ia menyebutkan, pascabencana, laju pertumbuhan ekonomi Sumbar cenderung tertinggal dibandingkan nasional. Sejumlah sektor utama yang selama ini menjadi penopang ekonomi daerah, seperti pertanian, industri pengolahan, dan transportasi, belum sepenuhnya pulih.
Sebagai daerah rawan bencana, Majid menekankan pentingnya rehabilitasi dan rekonstruksi yang cepat dan tepat sasaran agar sektor-sektor produktif dapat segera bergerak kembali.
“Contohnya pada sektor pertanian pascabanjir lahar dingin 2024. Infrastruktur pertanian belum sepenuhnya pulih sehingga berdampak pada perlambatan di tahun 2025. Ditambah lagi bencana hidrometeorologi yang kembali menekan sektor ini. Rehabilitasi sawah dan irigasi harus dipercepat agar dampaknya tidak berlarut,” jelasnya.
Lebih lanjut, Majid menegaskan hasil kajian ini menjadi pijakan penting dalam perumusan kebijakan ekonomi daerah ke depan. BI mendorong penguatan sektor-sektor inklusif dan padat karya, seperti pertanian, UMKM, dan pariwisata.
“Kami ingin pertumbuhan ekonomi Sumbar tidak hanya tinggi, tetapi juga berkualitas dan merata. UMKM menjadi kunci karena daya serap tenaga kerjanya besar,” katanya.
Analisis ISEI: Ada ‘Patah Struktural’ Ekonomi Sumbar
Koordinator Bidang Kajian dan Perumusan Kebijakan Subbidang Moneter dan Makroprudensial ISEI Cabang Padang, Rini Rahmahdian, mengungkapkan terdapat tiga syok monumental yang mengubah lintasan ekonomi Sumbar, yakni krisis moneter 1998, gempa besar 2009, dan pandemi Covid-19.
“Sebelum syok terjadi, pertumbuhan ekonomi Sumbar cenderung mengikuti bahkan sempat melampaui rata-rata nasional. Namun gempa 2009 menjadi titik balik yang menciptakan structural break sangat dalam,” ungkapnya.
Meski sempat membaik melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi, Rini menyebut setelah kebijakan tersebut berakhir, tren pertumbuhan ekonomi kembali melandai. Kondisi ini semakin diperparah oleh pandemi Covid-19.
“Pasca pandemi ekonomi memang pulih, tetapi lintasan pertumbuhan Sumbar tetap berada di bawah nasional dan sulit mengejar ketertinggalan, apalagi dengan bencana yang terus berulang,” katanya.
Rekomendasi Strategis
ISEI merekomendasikan sejumlah langkah strategis agar pertumbuhan ekonomi Sumbar dapat kembali sejalan dengan nasional. Di antaranya pembangunan infrastruktur tahan bencana, penyediaan dana tanggap bencana yang fleksibel dan tepat sasaran, serta diversifikasi ekonomi daerah.
“Perlu dorong agroindustri, ekonomi digital, pariwisata yang resilien, serta industri pengolahan agar ekonomi Sumbar lebih adaptif terhadap guncangan,” tutup Rini. [*]







