News, Tren  

Apakah Tradisi Jelang Ramadhan Masih Bertahan di Indonesia Tahun Ini?

Dari Munggahan hingga Dugderan, ragam tradisi jelang Ramadhan menjadi cermin budaya dan persiapan spiritual masyarakat Indonesia. Bagaimana kelestariannya di tengah gaya hidup modern?

Redaksi

KLIKGENZ – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Indonesia sejak lama memiliki beragam tradisi yang sarat makna spiritual dan sosial. Tradisi tersebut umumnya berfokus pada penyucian diri, penguatan silaturahmi, serta kebersamaan melalui doa dan makan bersama.

Namun, di tengah perubahan gaya hidup, urbanisasi, dan arus digitalisasi, apakah tradisi-tradisi jelang Ramadhan ini masih bertahan di Ramadhan tahun ini?

Di sejumlah daerah, tradisi seperti Munggahan di Jawa Barat masih dijalankan oleh masyarakat Sunda dengan berkumpul bersama keluarga, makan bersama, dan berdoa. Meski demikian, pada sebagian kalangan, praktik ini mulai mengalami penyederhanaan, bahkan bergeser menjadi sekadar pertemuan singkat di tengah kesibukan kerja dan mobilitas tinggi.

Tradisi Padusan di Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang identik dengan ritual mandi atau menyucikan diri di sumber mata air, juga menghadapi dinamika serupa. Di beberapa tempat, padusan masih ramai dilakukan, namun di wilayah lain mulai berkurang dan digantikan dengan aktivitas ibadah yang lebih personal. Apakah makna penyucian diri kini lebih dimaknai secara simbolik daripada ritual kolektif?

Di Aceh, Meugang masih menjadi tradisi kuat yang sulit ditinggalkan. Penyembelihan sapi atau kerbau dan makan bersama keluarga tetap berlangsung setiap tahun. Namun, tantangan ekonomi dan fluktuasi harga pangan memunculkan pertanyaan lain: apakah seluruh lapisan masyarakat masih bisa merayakan Meugang seperti sebelumnya?

Sementara di Sumatera Barat, Malamang dan Balimau masih dijumpai di berbagai nagari, meski tidak lagi semeriah masa lalu. Gotong royong mulai berkurang, digantikan dengan aktivitas keluarga inti. Apakah semangat kebersamaan tradisional mampu bertahan di tengah perubahan pola sosial masyarakat?

Tradisi Nyadran atau ziarah kubur, Megengan di Jawa Timur, Nyorog di kalangan Betawi, hingga festival Dugderan di Semarang juga menunjukkan pola yang beragam. Sebagian tetap lestari sebagai agenda budaya dan wisata, sementara lainnya mulai terbatas pada komunitas tertentu.

Di Ciamis, tradisi Misalin yang sarat pesan moral tentang peralihan dari keburukan menuju kebaikan masih dijaga, namun menghadapi tantangan regenerasi. Akankah generasi muda terus merawat tradisi ini, ataukah hanya mengenalnya sebagai bagian dari sejarah budaya?

Beragam tradisi jelang Ramadhan tersebut sejatinya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan cerminan nilai syukur, persiapan spiritual, dan penguatan silaturahmi. Pertanyaannya kini, bagaimana masyarakat memaknai dan merawat tradisi tersebut agar tetap relevan dan hidup di Ramadhan tahun ini dan masa mendatang? [*]