JAWA TIMUR | KLIKGENZ — Harga rata-rata bahan pokok di tingkat konsumen Provinsi Jawa Timur pada Jumat (30/1/2026) terpantau relatif stabil. Namun demikian, lonjakan harga pada sejumlah komoditas strategis, terutama cabai dan pupuk non-subsidi, mulai memicu kewaspadaan terhadap potensi tekanan inflasi daerah.
Berdasarkan data pemantauan harga, stabilitas masih terlihat pada kelompok beras. Harga beras premium tercatat tetap di level Rp14.845 per kilogram, sementara beras medium mengalami penurunan tipis sebesar Rp3 menjadi Rp12.885 per kilogram. Kondisi ini memberi sinyal positif bagi daya beli masyarakat di tengah dinamika harga pangan nasional.
Di sisi lain, komoditas cabai menunjukkan kenaikan cukup signifikan. Cabai rawit merah melonjak Rp1.849 atau 3,32 persen menjadi Rp57.475 per kilogram. Cabai merah besar naik Rp526 menjadi Rp26.489 per kilogram, sedangkan cabai merah keriting meningkat Rp261 menjadi Rp28.683 per kilogram. Kenaikan harga cabai diduga dipengaruhi oleh gangguan pasokan akibat faktor cuaca serta distribusi antarwilayah.
Pada komoditas minyak goreng, harga bergerak bervariasi. Minyak goreng curah naik Rp79 menjadi Rp18.721 per kilogram, minyak goreng kemasan premium naik tipis Rp14 menjadi Rp20.335 per liter, sementara Minyakita justru turun Rp29 menjadi Rp16.457 per liter.
Sementara itu, harga protein hewani relatif stabil. Daging sapi paha belakang turun tipis Rp37 menjadi Rp119.440 per kilogram. Daging ayam ras naik Rp53 menjadi Rp35.993 per kilogram, telur ayam ras naik Rp25 menjadi Rp27.286 per kilogram, sedangkan ayam kampung turun Rp169 menjadi Rp68.813 per ekor.
Tekanan harga paling mencolok terjadi di sektor pertanian, khususnya pupuk non-subsidi. Harga pupuk ZA melonjak 3,87 persen menjadi Rp7.026 per kilogram. Pupuk NPK naik Rp391 menjadi Rp14.191 per kilogram, dan pupuk SP-35 meningkat Rp200 menjadi Rp8.596 per kilogram. Kenaikan ini berpotensi meningkatkan biaya produksi dan berdampak pada harga pangan di tingkat konsumen dalam beberapa bulan ke depan.
Secara umum, harga bahan pokok di Jawa Timur masih dalam kondisi terkendali. Namun, pemerintah daerah diharapkan memperkuat pengawasan distribusi dan pasokan, khususnya cabai dan pupuk, guna menekan risiko inflasi serta menjaga stabilitas ekonomi daerah. [*]







