News, Tren  

Platform Emas JWR China Runtuh, Investor Ritel Terancam Rugi Rp171 Triliun

Krisis likuiditas platform perdagangan emas daring di China memicu protes massal dan sorotan serius terhadap perlindungan investor ritel

Foto: Investment Emas Batangan 50 Gram di Beijing, China (REUTERS/Jason Lee)

CHINA | KLIKGENZ — Runtuhnya platform perdagangan emas daring JWR di China memicu gelombang protes luas dan kerugian masif bagi investor ritel. Puluhan ribu nasabah dilaporkan belum dapat menarik dana mereka, dengan estimasi kerugian menembus lebih dari 10 miliar yuan atau setara Rp171 triliun.

Platform JWR sebelumnya menjadi primadona di tengah reli harga emas global. Lonjakan harga emas mendorong investor ritel China berbondong-bondong menempatkan dana mereka, berharap meraih keuntungan cepat. Namun situasi berbalik ketika harga emas spot kembali melonjak tajam dan nasabah ramai-ramai mencairkan dana.

Lonjakan permintaan penarikan itu memicu krisis likuiditas, membuat JWR gagal memenuhi kewajibannya kepada investor.

Mengutip South China Morning Post (SCMP), Jumat (30/1/2026), ratusan investor mendatangi kantor pusat JWR di Distrik Luohu, Shenzhen, menuntut pengembalian dana mereka. Aksi tersebut memaksa aparat kepolisian setempat turun tangan untuk menjaga ketertiban.

Media ekonomi Yicai melaporkan, otoritas China telah membentuk gugus tugas khusus untuk menyelidiki dugaan praktik bisnis tidak normal yang dijalankan JWR.

“Gugus tugas ini akan memeriksa praktik perdagangan, khususnya metode pra-penetapan harga yang digunakan platform,” tulis Yicai.

Model pra-penetapan harga yang digunakan JWR memungkinkan perusahaan dan investor menyepakati harga emas dan perak di masa depan secara privat, tanpa melalui bursa logam mulia yang teregulasi. Skema ini menawarkan leverage tinggi dan modal awal rendah, namun menyimpan risiko besar ketika pasar bergerak ekstrem.

Seorang investor yang menuliskan pengalamannya di media sosial Xiaohongshu mengungkapkan frustrasi luas di kalangan investor ritel.

“Saya dan banyak investor lain sudah melapor ke polisi, baik di kota asal maupun di Shenzhen. Banyak orang bahkan datang langsung ke Shenzhen,” tulisnya.

Ia juga memperingatkan bahwa masih banyak platform serupa beroperasi di pasar, sehingga risiko bagi investor ritel kini semakin tinggi.

Peringatan soal perdagangan logam mulia daring sebenarnya bukan hal baru. Oktober lalu, Asosiasi Emas dan Perhiasan Shenzhen telah mengingatkan adanya praktik ‘taruhan emas non-fisik’ oleh sejumlah pemasok lokal, yang diduga berjalan menyerupai perjudian ilegal.

Pengacara Deng Ping dari Guangzhou, yang menangani berbagai sengketa penggalangan dana swasta, menyebut kejatuhan platform investasi semacam JWR kini semakin sering terjadi.

“Dua tahun lalu yang runtuh adalah teh dan kripto. Sekarang giliran logam mulia,” ujarnya.

Kasus JWR menambah daftar panjang kegagalan platform investasi alternatif di China dan memicu kekhawatiran serius soal perlindungan investor ritel. Di tengah pesatnya pertumbuhan platform perdagangan non-konvensional, otoritas China menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas pasar dan kepercayaan publik. [*]