Harga Emas Dunia Tertekan Dolar AS, Pasar Cermati Arah The Fed di Era Kevin Warsh

Emas spot melemah, perak bangkit dari titik terendah, investor global waspadai kebijakan moneter AS

JAKARTA | KLIKGENZ – Pasar emas global kembali bergejolak pada awal pekan. Harga emas dunia melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Senin, tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) pasca mencuatnya nama Kevin Warsh sebagai kandidat kuat Ketua The Fed pilihan Presiden AS Donald Trump.

Mengutip laporan Reuters, harga emas di pasar spot tercatat turun 1,5% ke level US$4.793,97 per ons pada pukul 00.46 GMT. Tekanan jual ini muncul setelah emas sempat menyentuh posisi terendah lebih dari sepekan dalam perdagangan intraday.

Meski terkoreksi, posisi emas masih berada dekat dengan rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.594,82 per ons yang tercapai pada Kamis pekan lalu, mencerminkan kuatnya sentimen lindung nilai di tengah gejolak ekonomi global.

Berbeda dengan pasar spot, harga emas berjangka AS untuk kontrak Februari justru bergerak menguat. Kontrak emas berjangka tercatat naik 1,6% dan diperdagangkan di US$4.818,10 per ons, mengindikasikan adanya perbedaan persepsi pelaku pasar terhadap prospek jangka pendek dan menengah.

Di sisi lain, harga perak mulai menunjukkan pemulihan setelah tertekan tajam pada akhir pekan lalu. Harga perak spot naik 1,6% ke level US$85,98 per ons, bangkit dari posisi terendah lebih dari tiga minggu. Sebelumnya, perak sempat mencetak rekor tertinggi di US$121,64 per ons pada Kamis lalu.

Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang membebani harga emas dan logam mulia lainnya. Investor global kini mencermati arah kebijakan The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, yang dikenal memiliki kecenderungan mendukung perampingan neraca bank sentral dan pendekatan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Dolar yang lebih kuat membuat emas—yang diperdagangkan dalam denominasi mata uang AS—menjadi lebih mahal bagi investor non-dolar, sehingga menekan permintaan jangka pendek.

Warsh dinilai memenuhi banyak kriteria Presiden Trump untuk memimpin The Fed, mulai dari kedekatan politik dan sosial, jaringan luas di Wall Street, hingga pandangan kebijakan yang dinilai lebih sejalan dengan agenda ekonomi pemerintahan.

Namun demikian, pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait seberapa cepat dan seberapa agresif Warsh akan memangkas suku bunga acuan, serta sejauh mana ia akan mendorong perubahan kebijakan moneter di tubuh The Fed.

Tekanan inflasi juga kembali menjadi sorotan. Data ekonomi AS yang dirilis Jumat lalu menunjukkan indeks harga produsen (PPI) mencatat kenaikan terbesar dalam lima bulan terakhir pada Desember, dipicu oleh dampak tarif impor. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed berpeluang menahan suku bunga lebih lama guna meredam tekanan inflasi.

Meski demikian, pelaku pasar masih memproyeksikan setidaknya dua kali penurunan suku bunga AS sepanjang 2026. Dalam lingkungan suku bunga rendah, emas yang tidak memberikan imbal hasil tetap dipandang menarik sebagai aset lindung nilai.

Sementara itu, logam mulia lainnya bergerak melemah. Harga platinum di pasar spot turun 2% ke level US$2.120,05 per ons, setelah sebelumnya mencetak rekor US$2.918,80 per ons pada 26 Januari. Paladium juga terkoreksi 0,9% menjadi US$1.682,59 per ons. [*]

Sumber : IDN