News  

Ketua PKC PMII Sumatera Barat Soroti Tragedi Bunuh Diri Siswa SD di NTT

M. Yusuf Rahman sebut kematian siswa SD di Ngada sebagai alarm keras atas rapuhnya sistem perlindungan anak dan pengabdian mahasiswa

Rafi Dirga Maulana
Dok : Istimewa

PADANG | KlikGenZ – Ketua Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Sumatera Barat, M. Yusuf Rahman, menyampaikan belasungkawa mendalam atas tragedi memilukan yang menimpa seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Siswa tersebut dilaporkan meninggal dunia akibat diduga bunuh diri dengan meninggalkan sepucuk surat wasiat untuk sang ibu.

Yusuf menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar duka bagi keluarga korban, melainkan peringatan keras bagi seluruh elemen bangsa. Menurutnya, tragedi ini menunjukkan betapa rentannya perlindungan anak di Indonesia, khususnya bagi mereka yang berada dalam kondisi ekonomi sulit dan minim dukungan psikososial.

“Ini adalah alarm kemanusiaan bagi kita semua. Ketika seorang anak berusia 10 tahun merasa beban hidupnya sudah tidak tertanggung, maka yang gagal bukan hanya keluarganya, tetapi kita semua sebagai satu bangsa,” ungkap Yusuf dalam keterangannya, Kamis (5/2/20206).

Yusuf menyoroti bagaimana kemiskinan tidak hanya memukul aspek ekonomi, tetapi juga memberikan tekanan mental yang hebat pada anak-anak. Ia menilai, akses pendidikan yang dianggap sebagai hak dasar ternyata belum sepenuhnya dapat dinikmati secara bermartabat oleh seluruh anak-anak Indonesia.

“Kita kerap mendengungkan pendidikan sebagai hak, namun fakta di lapangan masih ada anak yang merasa putus asa hanya karena kebutuhan dasar sekolah yang tidak terpenuhi. Ini adalah ironi yang menyakitkan,” tambahnya.

Surat terakhir yang ditinggalkan korban menjadi bukti otentik bahwa beban batin anak-anak sering kali terabaikan oleh lingkungan sekitar. Yusuf berpendapat bahwa perlindungan anak tidak bisa hanya diselesaikan dengan kebijakan administratif, melainkan butuh kehadiran nyata dan empati dari masyarakat luas. Ia mengajak orang dewasa dan negara untuk lebih peka membaca tanda-tanda luka batin anak sebelum terlambat.

Lebih lanjut, Yusuf menekankan pentingnya peran mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan agar tidak bersikap apatis terhadap realitas sosial. Tragedi ini dipandang sebagai panggilan moral bagi para aktivis mahasiswa untuk lebih terlibat aktif dalam isu-isu kerakyatan dan perlindungan kelompok rentan.

“Mahasiswa tidak boleh terkurung di ruang akademik saja. Kita harus sensitif terhadap realitas sosial karena di sanalah pengabdian yang sesungguhnya berada,” tegas Yusuf.

Ia mengingatkan bahwa organisasi seperti PMII memiliki tanggung jawab moral untuk hadir mendampingi masyarakat, terutama keluarga tidak mampu. Organisasi mahasiswa diharapkan muncul sebagai penggerak dalam bentuk edukasi, advokasi, dan pendampingan sosial secara konsisten.

Menutup pernyataannya, Yusuf berharap peristiwa ini menjadi momentum refleksi kolektif bagi negara dan generasi muda agar lebih peduli terhadap masa depan anak-anak.

“Anak-anak Indonesia harus tumbuh dengan harapan besar, bukan dengan ketakutan atau keputusasaan. Jika kita lebih peka dan peduli, tragedi serupa tidak perlu terulang kembali,” tutupnya.