Awal Ramadan 2026 Berpotensi Beda, BRIN Ungkap Penyebab Utamanya

Perbedaan Hilal Lokal dan Global Jadi Kunci Awal Puasa 1447 H

Redaksi
Foto: Petugas Badan Hisab Rukiyat memantau hilal di Gedung Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Jumat (28/2/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

JAKARTA | KLIKGENZ – Potensi perbedaan awal Ramadan 1447 Hijriah atau puasa 2026 kembali mencuat. Namun kali ini, sumber perbedaan bukan lagi sekadar soal terlihat atau tidaknya hilal, melainkan perbedaan konsep penentuan awal bulan hijriah yang digunakan berbagai pihak.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan, perbedaan awal puasa tahun ini lebih dipicu oleh penggunaan kriteria hilal lokal dan hilal global, bukan karena data astronomi yang saling bertentangan.

Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof. Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa awal Ramadan 1447 H berpeluang jatuh pada 18 atau 19 Februari 2026, tergantung metode yang dijadikan acuan.

“Potensi perbedaan cukup besar. Bukan karena perhitungan astronominya berbeda, tetapi karena pendekatan yang digunakan apakah berbasis wilayah lokal atau global,” ujar Thomas, dikutip dari detikcom, Jumat (6/2/2026).

Hilal Lokal vs Hilal Global

Menurut Thomas, pemerintah Indonesia bersama mayoritas organisasi kemasyarakatan Islam masih berpegang pada konsep hilal lokal, yakni mensyaratkan visibilitas hilal di wilayah Indonesia.

Pada saat matahari terbenam 17 Februari 2026, posisi bulan di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk. Dengan kondisi tersebut, awal Ramadan berdasarkan hilal lokal baru memungkinkan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026.

Namun hasil berbeda muncul jika menggunakan hilal global. Dalam konsep ini, awal bulan dapat ditetapkan selama hilal telah memenuhi kriteria di salah satu wilayah dunia dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.

“Pada 17 Februari, hilal sudah memenuhi syarat di Alaska. Dengan pendekatan global, awal Ramadan bisa dimulai 18 Februari 2026,” jelas Thomas.

Pemerintah Menunggu Sidang Isbat

Penetapan resmi awal Ramadan di Indonesia tetap menunggu sidang isbat Kementerian Agama RI yang dijadwalkan pada 17 Februari 2026, bersamaan dengan pelaksanaan rukyatul hilal di berbagai titik pengamatan.

Berdasarkan prakiraan BMKG, ketinggian hilal pada 17 Februari masih berada di bawah ufuk, mulai dari minus 2,41 derajat di Jayapura hingga minus 0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat. Kondisi ini membuat hilal diperkirakan belum mungkin terlihat secara rukyat.

Indonesia sendiri mengacu pada kriteria imkanur rukyat MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Kriteria ini baru terpenuhi pada 18 Februari 2026, saat posisi hilal berada di atas horizon dengan ketinggian antara 7,62 hingga 10,03 derajat.

Muhammadiyah dan NU Ambil Sikap Berbeda

Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan ini didasarkan pada metode hisab hakiki dengan acuan Kalender Hijriah Global Tunggal.

Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) masih menunggu hasil rukyatul hilal. Meski demikian, berdasarkan Almanak NU, awal Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, sejalan dengan pendekatan hilal lokal.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau tetap menunggu hasil sidang isbat sebagai keputusan resmi negara, sekaligus saling menghormati perbedaan metode penetapan awal Ramadan. [*]