BANDUNG | KLIKGENZ – Pemerataan konektivitas digital nasional tak bisa lagi berjalan dengan pendekatan satu arah. Pemerintah, sektor swasta, media, hingga masyarakat sipil dituntut bergerak bersama agar akses internet tidak hanya hadir secara fisik, tetapi benar-benar memberi dampak bagi kehidupan sosial dan ekonomi, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital RI terus mengakselerasi pembangunan infrastruktur digital lewat program Universal Service Obligation (USO). Program ini menjadi tulang punggung perluasan jaringan telekomunikasi di daerah yang selama ini belum tersentuh layanan digital memadai.
Namun, pembangunan infrastruktur saja dinilai belum cukup. Peran swasta melalui investasi dan inovasi teknologi, serta partisipasi aktif masyarakat sebagai pengguna internet produktif, menjadi penentu keberhasilan pemerataan konektivitas digital secara berkelanjutan.
Kreator Lokal, Pilar Informasi di Akar Rumput
Di tengah pesatnya transformasi digital, kreator lokal muncul sebagai aktor penting dalam ekosistem informasi. Mereka bukan sekadar produsen konten, melainkan penghubung utama antara informasi dan masyarakat di sekitarnya.
Melalui konten edukatif, informatif, dan inspiratif, kreator lokal berkontribusi meningkatkan literasi digital, membangun kepercayaan publik, sekaligus mendorong partisipasi warga dalam isu pendidikan, sosial, hingga pembangunan daerah.
Di banyak wilayah 3T, kreator lokal bahkan berperan sebagai “media alternatif” yang paling dekat dengan masyarakat. Sayangnya, keterbatasan akses internet masih menjadi tantangan besar yang membatasi ruang berkarya dan jangkauan pesan mereka.
“Tanpa konektivitas yang memadai, potensi kreator lokal sulit berkembang maksimal. Padahal, mereka adalah ujung tombak penyebaran informasi positif di daerah,” demikian salah satu catatan penting dalam penguatan ekosistem digital nasional.
Apresiasi Konektivitas Digital 2026 Angkat Peran Penggerak Daerah
Sebagai bentuk penghargaan terhadap kontribusi berbagai pihak dalam memperkuat konektivitas digital, detikcom kembali menggelar Apresiasi Konektivitas Digital 2026. Ajang ini ditujukan bagi individu, komunitas, lembaga, hingga kreator yang dinilai memiliki dampak nyata dalam membuka akses teknologi dan informasi, khususnya di wilayah 3T.
Program ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi, tetapi juga wadah untuk menampilkan kisah dedikasi dan inovasi yang lahir dari tingkat lokal. Apresiasi ini sekaligus mencerminkan komitmen BAKTI Komdigi sebagai pelaksana program USO dalam memastikan layanan telekomunikasi menjangkau seluruh pelosok Indonesia.
Dengan konektivitas yang semakin kuat, kreator lokal diharapkan memiliki ruang lebih luas untuk menghasilkan konten berkualitas yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Nominasi Diperpanjang hingga 28 Februari 2026
Tingginya antusiasme publik mendorong panitia memperpanjang masa pengajuan nominasi Apresiasi Konektivitas Digital 2026 hingga 28 Februari 2026. Perpanjangan ini membuka peluang lebih besar bagi masyarakat untuk mengusulkan sosok, komunitas, maupun kreator inspiratif di daerahnya masing-masing.
Langkah ini diharapkan mampu menjaring lebih banyak cerita inspiratif dari berbagai penjuru Indonesia, sekaligus memperkuat semangat kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan digital nasional.
Cara Mengajukan Nominasi
Masyarakat dapat berpartisipasi dengan langkah berikut:
Mengunjungi laman detik.com/apresiasikonektivitasdigital
Mengajukan nama individu, komunitas, lembaga, atau kreator inspiratif
Mengisi formulir data pengusul dan nominator
Memilih kategori nominasi yang sesuai
Formulir nominasi dibuka sejak 15 November 2025 hingga 28 Februari 2026.
Menuju Ekosistem Digital Inklusif
Melalui Apresiasi Konektivitas Digital, diharapkan tercipta ekosistem digital yang inklusif dan berkeadilan. Pemerataan akses internet membuka peluang yang sama bagi masyarakat wilayah 3T untuk belajar, berkarya, dan bersaing di era digital.
Langkah ini sejalan dengan visi Indonesia Emas, di mana transformasi digital menjadi pilar penting pembangunan nasional berbasis kolaborasi dan inovasi. ∗∗







