News, Tren  

AI, Hak Cipta, dan Kredibilitas Media: Tantangan Baru Ekosistem Informasi Digital Indonesia

Belum adanya model bisnis AI untuk media dinilai jadi ganjalan, akademisi ingatkan kredibilitas lahir dari ekosistem digital yang sehat dan audiens yang melek literasi

Foto : goodnewsfromindoneaia

JAKARTA | KLIKGENZ – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kian menantang lanskap industri media di Indonesia. Tak hanya soal teknologi, diskursus kini bergeser pada isu mendasar: perlindungan hak cipta dan keberlanjutan model bisnis media di era AI.

Wahyu mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin diskusi dengan Kementerian Hukum terkait peluang revisi Undang-Undang Hak Cipta sebagai respons atas masifnya pemanfaatan AI. Namun, menurutnya, masih ada satu persoalan krusial yang belum terjawab hingga kini, yakni belum ditemukannya model bisnis yang ideal agar AI dapat mengakses konten media secara adil dan berkelanjutan.

“Masalahnya bukan sekadar regulasi, tapi bagaimana menemukan skema bisnis yang sama-sama menguntungkan, baik bagi pengembang AI maupun industri media,” ujarnya.

Baca Juga  BI Ungkap Luka Ekonomi Sumbar Selama 30 Tahun: Bencana Tinggalkan Dampak Struktural Jangka Panjang

Isu tersebut mengemuka dalam paparan sejumlah narasumber yang menyoroti satu benang merah utama: kredibilitas. Baik dunia kehumasan maupun jurnalisme, kredibilitas disebut sebagai fondasi yang tak bisa ditawar di tengah banjir informasi digital.

Dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Rini Sudarmanti, menegaskan bahwa untuk menjaga kredibilitas, Indonesia membutuhkan ekosistem informasi digital yang sehat dan bertanggung jawab. Menariknya, Rini menekankan bahwa kredibilitas sejatinya tidak hanya melekat pada media atau jurnalis, tetapi juga berada di tangan audiens.

“Audienslah yang menilai, apakah sebuah informasi bisa dipercaya atau tidak. Tapi pertanyaannya sekarang, apakah audiens itu sendiri sudah cukup bisa dipercaya sebagai penilai kredibilitas?” kata Rini.

Baca Juga  Cek Fakta: Isu Presiden Prabowo Audit Seluruh Kepala Desa Imbas Demo PMK 81, Hoaks atau Fakta?

Ia menambahkan, relasi antara media dan audiens seharusnya bersifat dua arah. Media dituntut menyajikan informasi yang akurat dan beretika, sementara audiens juga perlu dibekali kemampuan literasi media agar tidak mudah terjebak hoaks dan disinformasi.

Menurut Rini, salah satu langkah strategis untuk memperkuat literasi tersebut adalah melalui kolaborasi riset lintas sektor. Hasil riset yang terbuka dan dapat dimanfaatkan bersama diyakini mampu memperkuat kualitas ekosistem informasi digital secara menyeluruh.

“Kredibilitas itu bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Ia harus diupayakan secara konsisten dan menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya jurnalis atau humas semata,” pungkasnya. [*]