Festival Bacatuk Dauh 2026, Upaya Serius Kabupaten Banjar Jaga Identitas Religius
BANJAR | KLIKGENZ – Pemerintah Kabupaten Banjar kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga identitas budaya lokal melalui Festival Bacatuk Dauh Tahun 2026. Agenda tahunan ini digelar untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan sekaligus memperkuat pelestarian tradisi religius masyarakat Banjar.
Babak penyisihan berlangsung selama dua hari, Selasa–Rabu (10–11/2/2026), di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Alun-Alun Ratu Zalecha, Martapura. Para peserta tampil maksimal demi merebut sembilan tiket menuju grand final yang direncanakan digelar pada pertengahan Ramadan atau malam 21, menunggu keputusan Bupati Banjar.
Mengusung tema “Melalui Festival Bacatuk Dauh, Kita Lestarikan Budaya Banjar”, kegiatan ini menjadi bagian dari inovasi kebudayaan yang dikembangkan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Banjar.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Kabupaten Banjar, Muhammad Syahid, menegaskan festival ini bertujuan menjaga, mengembangkan, dan memanfaatkan objek pemajuan kebudayaan, khususnya tradisi Bacatuk Dauh yang sarat nilai religius.
“Selain menjadi program rutin, festival ini adalah upaya menjaga kesejahteraan budaya serta melestarikan tradisi Banjar yang religius,” ujarnya.
Sejak pertama kali digelar pada 2018, Festival Bacatuk Dauh kini memasuki tahun ketujuh penyelenggaraan. Kabupaten Banjar bahkan disebut sebagai pionir festival ini di Kalimantan Selatan, yang kemudian diikuti kabupaten/kota lain.
Sejarah Dauh: Dari Penanda Waktu Salat hingga Panggung Festival
Ketua Umum Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Banjar periode 2024–2025, Rahmat Saleh, menjelaskan bahwa dauh memiliki sejarah panjang. Instrumen ini disebut mengadopsi pengaruh budaya luar seperti India dan Tiongkok, kemudian disyiarkan oleh Wali Songo.
Menurutnya, dauh berbeda dengan bedug. Bedug berukuran lebih besar dan berfungsi sebagai penanda waktu salat, puasa, maupun takbiran. Sementara dauh merupakan istilah yang telah “dibanjarkan”, lebih difungsikan sebagai instrumen musik pengiring syair-syair Islami dengan tampilan warna-warni.
Mengutip pemerhati budaya Banjar, Kaekaka, bacatuk dauh berasal dari kata “bacatuk” (memukul) dan “dauh” (bedug). Dahulu, sebelum listrik masuk ke Kalimantan, dauh menjadi penanda waktu salat lima waktu, salat Jumat, buka puasa, hingga Hari Raya Idulfitri dan Iduladha.
Seiring perkembangan zaman, fungsi dauh mulai tergeser oleh sirine, pengeras suara, hingga aplikasi digital. Namun melalui festival ini, identitas budaya religius masyarakat Banjar dihidupkan kembali agar tidak lekang oleh modernisasi.
Hal ini juga diperkuat oleh keputusan Muktamar Ke-11 NU di Banjarmasin tahun 1936 yang menegaskan bahwa dauh dan kentongan masih sangat dibutuhkan oleh masjid dan musala untuk memperbesar syiar Islam.
Sistem Lomba dan Total Hadiah Puluhan Juta Rupiah
Setiap peserta terdiri dari penabuh dauh/bedug, beberapa backing vokalis, dan satu vokalis utama yang membawakan syair-syair Islami. Selain kualitas musikal, kostum juga menjadi bagian penting dalam penilaian dewan juri.
Para peserta memperebutkan Piala Bergilir Bupati Banjar serta uang pembinaan dengan total hadiah puluhan juta rupiah.
Untuk kategori Juara Terbaik:
Juara I: Rp 13 juta
Juara II: Rp 10 juta
Juara III: Rp 8 juta
Kategori Juara Harapan:
Harapan I: Rp 7 juta
Harapan II: Rp 6 juta
Harapan III: Rp 5 juta
Kategori Juara Favorit, Juara Pelestari, dan Busana Terbaik masing-masing mendapatkan Rp 4 juta.
Tak hanya itu, panitia juga menggelar kompetisi On The Spot Video Festival Bacatuk Dauh 2026 yang terbuka untuk umum, pelajar, dan mahasiswa se-Indonesia. Peserta cukup membuat video rangkaian kegiatan festival, baik babak penyisihan maupun grand final.
Hadiah kompetisi video:
Juara I: Rp 4 juta
Juara II: Rp 3,5 juta
Juara III: Rp 3 juta
Juara Favorit: Rp 1,5 juta
Juara Hiburan (4 pemenang): Rp 500 ribu
Festival Bacatuk Dauh 2026 bukan sekadar lomba seni, tetapi panggung kebangkitan tradisi religi Banjar di tengah derasnya arus digitalisasi. Melalui event ini, generasi muda diajak mengenal, mencintai, dan melestarikan warisan budaya yang menjadi identitas daerah. [*]






