News, Tren  

Tradisi Bunga Rampai Sambut Ramadan 2026: Ketika Gen Z Merawat Warisan Leluhur di Era Digital

Dari Nyadran hingga konten “Ramadan Vibes”, generasi muda membuktikan tradisi menyambut bulan suci tetap hidup dan relevan di tengah arus media sosial.

KLIKGENZ – Menjelang Ramadan 1447 Hijriah atau Ramadan 2026, denyut tradisi menyambut bulan suci kembali terasa di berbagai daerah Indonesia. Salah satu yang masih bertahan adalah penggunaan bunga rampai dalam tradisi nyadran atau punggahan ritual ziarah dan doa bersama yang sarat makna spiritual serta kearifan lokal.

Di tengah modernisasi dan derasnya arus digitalisasi, tradisi ini justru menemukan ruang baru. Generasi Z, yang dikenal sebagai digital native, tampil sebagai wajah baru pelestari budaya, mengemas ritual lama dalam narasi kekinian tanpa menghilangkan nilai dasarnya.

Aroma Harum yang Sarat Makna

Tradisi lokal mandi besar Kuramasan di kampung adat Miduana, Desa Balegede, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.(ANTARA/HO)

Bunga rampai campuran irisan daun pandan, melati, mawar, dan kenanga bukan sekadar wewangian. Dalam tradisi masyarakat Jawa dan sebagian Sumatera, bunga rampai menjadi simbol penyucian diri serta penghormatan kepada leluhur menjelang bulan puasa.

Tradisi nyadran atau punggahan lazim dilakukan pada pertengahan bulan Sya’ban (Ruwah). Masyarakat berziarah ke makam keluarga, menaburkan bunga rampai, serta memanjatkan doa. Aroma harum diyakini melambangkan harapan agar ibadah Ramadan menghadirkan kebaikan dan keberkahan bagi diri dan lingkungan.

Baca Juga  Jonatan Christie Melaju ke Final India Open 2026 Usai Taklukkan Loh Kean Yew

Selain ziarah, momen ini juga diwarnai selamatan atau makan bersama, termasuk berbagi kue apem sebagai simbol saling memaafkan. Tradisi tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan hubungan keluarga sebelum memasuki bulan penuh pengendalian diri.

Secara kultural, praktik ini menunjukkan harmonisasi antara nilai agama dan budaya lokal. Spirit menyambut Ramadan dengan rasa gembira dan persiapan batin menjadi esensi yang terus diwariskan lintas generasi.

Gen Z: Mengemas Tradisi dengan Cara Baru

Tradisi Kuramasan di Kampung Adat Miduana (Instagram/kampungadatmiduana) dok trevo

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z memaknai tradisi tidak hanya sebagai rutinitas turun-temurun, tetapi sebagai identitas budaya yang perlu dipahami dan direpresentasikan.

Alih-alih meninggalkan nyadran, banyak anak muda justru mendokumentasikannya di media sosial. Konten bertajuk “Ramadan Vibes”, “A Day in My Life: Nyadran Edition”, hingga visual estetik bunga rampai di Instagram Reels dan TikTok menjadi fenomena baru jelang puasa 2026.

Digitalisasi ini bukan sekadar pamer aktivitas. Bagi sebagian Gen Z, dokumentasi tersebut menjadi bentuk arsip budaya sekaligus edukasi kepada sesama generasi muda tentang makna tradisi.

Baca Juga  Gen Z Lepas Smartphone, Kompak Pindah ke HP Penggantinya

Mereka juga cenderung menggali nilai filosofis di balik ritual. Menabur bunga rampai dimaknai sebagai pengingat kematian, refleksi diri, serta penguatan family time. Ramadan pun dianggap sebagai momen “pause” dari kebisingan dunia digital—ruang untuk kembali pada nilai spiritual dan sosial.

Tradisi yang Bertahan karena Beradaptasi

Pengamat sosial budaya menilai, keberlanjutan tradisi bunga rampai menunjukkan bahwa budaya lokal tidak statis. Ia hidup, bergerak, dan bertransformasi mengikuti zaman.

Ramadan 2026 menjadi bukti bahwa tradisi dan teknologi bukan dua kutub yang saling bertentangan. Di tangan Gen Z, ritual lama mendapatkan medium baru tanpa kehilangan makna.

Ketika generasi muda memilih merawat akar budaya sambil memanfaatkan ruang digital sebagai panggung ekspresi, tradisi menyambut Ramadan bukan hanya bertahan tetapi menemukan relevansi baru di era modern.

Ramadan bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriah. Ia adalah momentum kolektif untuk membersihkan hati, mempererat silaturahmi, dan menjaga warisan nilai agar tetap harum seharum bunga rampai yang ditaburkan dengan doa. [*]