Tradisi Malamang Sambut Ramadan di Ulakan Tapakis Padang Pariaman Tetap Lestari

Warga Ulakan Tapakis lestarikan tradisi malamang sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur menjelang bulan suci Ramadan.

Seorang ibu di Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, dengan penuh ketelatenan mengatur bara api saat proses pengapian lamang. Tahapan ini menjadi kunci agar beras ketan yang dimasak di dalam bambu matang sempurna, sekaligus mencerminkan semangat gotong royong dalam tradisi malamang menyambut Ramadan. [ foto Imran Efendi / klikgenz.com.

PADANG PARIAMAN | KLIKGENZ — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, denyut kebersamaan terasa kuat di Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Warga kembali menggelar tradisi malamang, sebuah warisan budaya turun-temurun yang menjadi penanda datangnya bulan penuh berkah.

Di halaman rumah hingga sudut-sudut kampung, asap tipis dari bara api membumbung. Bambu-bambu berisi beras ketan dan santan tersusun rapi, dibakar perlahan hingga matang sempurna. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas memasak, tetapi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan persiapan spiritual menyambut Ramadan.

Malamang, Identitas Budaya yang Menyatukan Warga

Bagi masyarakat Ulakan Tapakis, malamang adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial dan budaya. Proses memasak lamang—beras ketan yang dimasukkan ke dalam bambu, dilapisi daun pisang, lalu dibakar di atas bara api—dilakukan secara gotong royong.

Baca Juga  BREAKINGNEWS: Semen Padang FC Resmi Pecat Coach Eduardo Almeida!

Suasana hangat penuh canda dan kerja sama terlihat jelas. Kaum ibu menyiapkan bahan, para bapak menjaga bara api, sementara generasi muda membantu membersihkan bambu dan menata kayu bakar.

“Bagi kami, malamang bukan sekadar memasak. Ini momen mempererat silaturahmi dan kebersamaan antarwarga,” ujar Nurtani, salah seorang warga setempat.

Tradisi ini juga menjadi ruang berkumpul lintas generasi. Nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa hormat terhadap adat diwariskan secara langsung kepada anak-anak muda.

Foto : Seorang warga sedang melakukan pemanggangan Lamang, merupakan proses akhir, sebelum di hidangkan. Dok Imran Efendi/klikgenz.com

Sarat Makna Spiritual Menyambut Ramadan

Lebih dari sekadar kuliner khas Minangkabau, lamang memiliki makna religius yang mendalam. Setelah matang, lamang biasanya disajikan dalam doa bersama di rumah masing-masing sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar ibadah puasa berjalan lancar dan penuh keberkahan.

Baca Juga  Nagari Persiapan sebagai Role Model Pemerintahan Berkawasan di Padang Pariaman

Setiap keluarga mempersiapkan bahan jauh hari sebelum Ramadan tiba. Beras ketan pilihan, santan segar, dan bambu terbaik dipilih agar hasil lamang sempurna. Proses pembakaran pun membutuhkan ketelatenan selama berjam-jam.

“Lamang ini simbol rasa syukur. Harapannya, Ramadan nanti berjalan lancar dan membawa keberkahan bagi keluarga,” tambah Nurtani.

Di tengah arus modernisasi, tradisi malamang tetap bertahan sebagai identitas budaya masyarakat Ulakan Tapakis. Keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar tradisi ini tidak tergerus zaman.

Malamang bukan hanya tentang makanan, melainkan tentang nilai, kebersamaan, dan kekuatan budaya lokal yang terus hidup dari generasi ke generasi. [*]