Wisudawan Termuda Kedokteran UGM, Farras Ulinnuha Lulus di Usia 19 Tahun dan Siap Mengabdi ke Lampung

Lulus di usia 19 tahun 8 bulan, mahasiswi Kedokteran IUP UGM asal Lampung ini pecahkan rekor usia wisudawan dan bertekad tingkatkan pemerataan layanan kesehatan di daerah.

Redaksi
Wisudawati Cantik, Farras Ulinnuha Lulus S1 Kedokteran UGM di Usia 19 Tahun 8 Bulan. (Foto: UGM)

JAKARTA | KLIKGENZ – Prestasi membanggakan datang dari dunia pendidikan tinggi. Farras Ulinnuha, mahasiswi Program Studi Kedokteran kelas International Undergraduate Program (IUP) di Universitas Gadjah Mada, resmi dinobatkan sebagai wisudawan termuda.

Gadis asal Lampung tersebut berhasil menyelesaikan studi sarjananya di usia 19 tahun 8 bulan 17 hari. Capaian ini jauh di bawah rata-rata usia 1.729 lulusan Program Sarjana yang tercatat 22 tahun 6 bulan 15 hari.

Perjalanan Akademik yang Lebih Cepat dari Rata-Rata

Farras memang telah menempuh jalur pendidikan lebih cepat sejak kecil. Ia mengaku mulai masuk Sekolah Dasar pada usia 4,5 tahun. Bahkan, saat masih duduk di kelas 5 SD, ia sudah mengikuti Ujian Nasional untuk masuk SMP bersama kakak kelasnya—kesempatan yang saat itu masih diperbolehkan.

“Saya masuk SD umur 4,5 tahun, berlanjut ke SMP 3 tahun, dan kemudian saat SMA saya hanya menyelesaikan 2 tahun,” ujarnya seperti dikutip dari laman resmi UGM.

Keputusan mempercepat jenjang pendidikan membuatnya harus matang lebih awal, baik secara akademik maupun mental.

Tantangan Kuliah di Usia 16 Tahun

Memasuki bangku kuliah di usia 16 tahun tentu bukan perkara mudah. Farras mengakui dirinya sempat menghadapi tantangan adaptasi, mulai dari lingkungan baru, budaya belajar yang berbeda, hingga dinamika pertemanan dengan mahasiswa yang usianya mayoritas lebih tua.

Baca Juga  Rupiah Nyaris Rp17.000 per Dolar AS, Tekanan Global dan Defisit Fiskal Jadi Sorotan

Namun, lingkungan Fakultas Kedokteran UGM yang inklusif membantunya menemukan ritme belajar yang tepat.

“Di awal kuliah, penyesuaian berjalan tidak selalu mulus, tetapi perlahan saya menemukan ritme yang tepat,” kenangnya.

Cita-Cita Mengabdi untuk Lampung

Ketertarikan Farras terhadap dunia medis tumbuh sejak kecil. Ia kerap menemani sang ibu bekerja di rumah sakit serta membantu di klinik keluarga. Pengalaman tersebut membuatnya akrab dengan dunia kedokteran sejak dini.

Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana kedokteran, ia memiliki mimpi besar: kembali ke Lampung untuk berkontribusi meningkatkan layanan kesehatan.

“Saat tahu UGM, saya pikir saya bisa belajar di sana dan ingin jadi dokter agar tingkat layanan kesehatan di Indonesia bisa lebih merata,” tuturnya.

Kisah Farras Ulinnuha menjadi inspirasi bahwa usia bukanlah batas untuk meraih prestasi. Dengan ketekunan, dukungan keluarga, dan lingkungan akademik yang kondusif, generasi muda Indonesia mampu menorehkan capaian luar biasa sekaligus membawa visi pengabdian bagi daerah asalnya.

Memasuki dunia kampus, Farras tak hanya fokus pada akademik. Ia berusaha membangun keseimbangan dengan aktif berorganisasi di lingkungan fakultas. Farras bergabung dengan Asian Medical Students Association (AMSA) dan Center for Indonesian Medical Students Activities (CIMSA).

Kedua organisasi tersebut menjadi ruang eksplorasi yang memperkaya wawasannya di luar kelas, tanpa tekanan berlebihan. Di sana, ia belajar memperluas jejaring, meningkatkan kemampuan komunikasi, serta memahami isu kesehatan global dan nasional dari perspektif yang lebih luas.

Baca Juga  Ambulans RS Bangko Kecelakaan di Sijunjung, Tabrak Truk Hino Saat Rujuk Pasien

Pengalaman paling berkesan baginya terjadi saat masa preklinik. Ketika mempelajari anatomi, Farras bersama teman-temannya mendapat kesempatan langka untuk masuk ke ruang operasi bersama seorang dokter ortopedi yang membimbing mereka.

“Itu momen paling berharga. Saya kagum sekali, baru awal-awal kuliah, terus bisa lihat langsung bagaimana ruang Operasi Kecil bekerja,” kenangnya.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk serius menekuni dunia medis. Baginya, pembelajaran terbaik bukan hanya berasal dari buku, tetapi juga dari pengalaman langsung di lapangan.

Farras berharap perjalanan akademiknya bisa menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain. Ia meyakini bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai garis akhir, melainkan dari konsistensi, ketekunan, dan keyakinan pada proses masing-masing.

Di usia yang masih sangat muda, ia berhasil menuntaskan pendidikan sarjananya dengan membawa harapan besar untuk masa depan. Komitmennya tetap sama: kembali ke Lampung dan berkontribusi bagi pemerataan layanan kesehatan.

“Semangat. Dulu aku juga sempat desperate, tapi sekarang Alhamdulillah bisa lulus. Intinya semua orang punya timeline-nya masing-masing, jadi tetap semangat dan lakukan yang terbaik,” pungkas Farras. [*]