KLIKGENZ.COM — Ada yang berbeda dari unggahan terbaru dr. Diniy Miftahul Muthmainnah. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi yang bertugas di RS Islam Ibnu Sina Padang dan RSIA Siti Hawa itu menuliskan sebuah caption panjang, jujur, dan menyentuh tentang perjalanan hidupnya sebagai anak pertama dari sembilan bersaudara.
Melalui akun Instagram @diniymuth, putri sulung Mahyeldi, Gubernur Sumatera Barat, membagikan momen kebersamaan yang jarang ia rasakan: bepergian jauh hanya bertiga bersama sang Umi dan Buya.
“Setelah hampir 36 tahun usiaku, baru kali ini rasanya merasakan perjalanan jauh panjang dan memorable hanya bertiga Umi Buya,” tulisnya.
Untuk Pertama Kali, Menjadi “Anak Tunggal”
Sebagai anak pertama dari sembilan bersaudara, dr. Diniy mengaku nyaris tak pernah merasakan perhatian eksklusif sebagai satu-satunya anak. Namun dalam perjalanan singkat itu, ia untuk pertama kalinya merasakan bagaimana menjadi “anak tunggal”.
Perasaan yang selama ini ia simpan dalam-dalam, perlahan terurai. Ketakutan, kegagalan, kepayahan, hingga kekecewaan yang ia hadapi sebagai anak sulung, selama ini lebih sering ia tanggung sendiri.
Ia mengingat masa kecil yang jauh dari kata ideal. Saat menemani sang ayah membeli bahan untuk kedai sewaan keluarga. Malam-malam diisi dengan mengikat bungkus es cincau dan es batu buatan Umi. Sebuah fase hidup yang membentuk ketangguhan.
Kenangan paling membekas adalah saat menyaksikan langsung perjuangan ibunya melahirkan adik-adiknya. Ia pernah melihat Umi mengalami perdarahan dari balik celah jendela rumah bidan. Pernah pula menyaksikan kondisi darurat ketika persalinan harus dirujuk akibat distosia bahu.
Momen-momen itulah yang diam-diam membentuk tekadnya menjadi dokter spesialis obstetri dan ginekologi.
Dari Anak Sulung, Menjadi Penjaga
Dalam perjalanan ke Malaysia—meliputi Kuala Lumpur, Penang, Kedah hingga Kelantan pada 8–11 Februari 2026—peran seolah berbalik. Ia kini menggandeng tangan kedua orang tuanya.
Memegangi tas Umi. Menyiapkan obat yang harus diminum Buya. Memastikan medical check up berjalan detail dan lancar. Mengabadikan foto bertiga, kapan pun ia membuka kamera.
Namun di sela kebersamaan itu, ada kesadaran yang perlahan mengetuk hati: orang tuanya tak lagi muda.
“Raut lelahnya, gurat capeknya aku rasakan. Hanya saja aku yakin, Buyaku tak akan pernah mengucapkan itu,” tulisnya.
Sebagai anak, ia mengaku baktinya masih terasa belum seberapa dibandingkan semua perjuangan yang telah diberikan.
Doa yang Tak Pernah Putus
Di setiap malam perjalanan, saat memastikan Umi dan Buya beristirahat, doa-doa panjang ia panjatkan.
Ia memohon agar usia keduanya dipanjangkan, disehatkan, dijauhkan dari penyakit dan fitnah. Ia juga memohon agar dimampukan membalas semua kesusahan masa lalu dengan kebahagiaan.
“Hanya 3 hari, namun mendalam,” ungkapnya.88
Perjalanan itu bukan sekadar wisata lintas kota di Malaysia. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan batin seorang anak sulung yang akhirnya bisa memeluk orang tuanya tanpa harus berbagi peran.8
Kesempatan itu, ia sebut sebagai kelapangan hati dari suami dan anak-anaknya yang mengizinkannya pergi pagi itu.
Sebuah perjalanan sederhana. Namun bagi dr. Diniy, itu adalah hadiah kehidupan yang tak ternilai. [*]
Sumber: IG @diniymuth







