JAKARTA | KLIKGENZ.COM – Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Rahmat Bagja, mengungkap tantangan besar yang akan dihadapi menjelang Pemilu 2029. Salah satu yang paling krusial adalah maraknya disinformasi digital berbasis kecerdasan buatan (AI), termasuk teknologi deepfake.
Menurut Bagja, perkembangan AI memungkinkan manipulasi wajah dan suara yang sangat mirip dengan aslinya, sehingga berpotensi menyesatkan publik.
“Kita punya masalah besar di era AI antara ada deep fake yang bahasa dan wajah bisa disamakan. Itu sangat bahaya karena aturannya belum ada, pencegahan ini penting kita bahas bersama,” kata Bagja, dilansir dari laman resmi Bawaslu.
Kolaborasi dengan Platform Digital
Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, Bawaslu menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor, terutama dengan pihak-pihak yang memiliki kapasitas dan keahlian di bidang digital.
Bagja menyebut Bawaslu telah dan akan terus berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), sejumlah organisasi non-pemerintah, serta platform media sosial global seperti Meta Platforms, Google, dan TikTok.
“Kita terus bekerjasama baik dengan stakeholder untuk mengantisipasi persoalan disinformasi misal dengan Mafindo, NGO lainnya, media platform META, Google, Tiktok sehingga bisa meminimalisir permasalahan yang ada melalui media digital,” ujarnya.
Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat sistem deteksi dini, mempercepat proses klarifikasi, serta menekan penyebaran hoaks dan kampanye hitam di ruang digital.
Tantangan Pemilih Pemula
Selain ancaman disinformasi berbasis AI, Bawaslu juga menyoroti meningkatnya jumlah pemilih pemula pada Pemilu 2029. Generasi ini dinilai sangat akrab dengan dunia digital dan media sosial, sehingga rentan terpapar informasi yang belum tentu benar.
“Generasi ini sangat melek terhadap era digital. Maka cek fakta sangat diperlukan untuk meminimalisir hoaks dan kampanye hitam yang tersebar,” tegas Bagja.
Bawaslu mendorong penguatan literasi digital dan budaya cek fakta sebagai langkah strategis untuk menjaga kualitas demokrasi. Dengan kombinasi regulasi, pengawasan, serta kolaborasi multipihak, lembaga pengawas pemilu itu berharap Pemilu 2029 dapat berlangsung lebih bersih dan berintegritas di tengah derasnya arus teknologi AI. [*]
Sumbet: liputan6







