PADANG PARIAMAN | KLIKGENZ.COM — Dinamika Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) serentak di Kabupaten Padang Pariaman tahun ini menghadirkan warna baru. Dari berbagai perbincangan di media sosial hingga pemberitaan media online, muncul satu fenomena yang cukup mencolok: semakin banyak generasi muda yang ikut ambil bagian dalam kontestasi politik tingkat nagari.
Fenomena ini dinilai sebagai sinyal positif bagi masa depan pembangunan nagari. Kehadiran anak-anak muda dalam arena Pilwana menunjukkan munculnya semangat baru untuk menghadirkan perubahan, inovasi, serta pendekatan pembangunan yang lebih adaptif dengan perkembangan zaman.
Selama ini, kepemimpinan nagari umumnya didominasi oleh tokoh-tokoh senior. Namun kini, generasi muda mulai tampil dengan gagasan, energi, serta perspektif yang lebih segar untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan nagari ke depan.
Keinginan kalangan muda untuk membangun nagarinya pun dinilai patut diapresiasi dan didorong. Sebab generasi muda biasanya hadir dengan berbagai ide kreatif serta terobosan yang diharapkan mampu mempercepat kemajuan nagari.
Salah satu sosok generasi muda yang menyatakan diri siap maju sebagai bakal calon Wali Nagari adalah Pandu Hardiknas. Namanya mulai diperbincangkan masyarakat sebagai figur muda yang siap bertarung dalam Pilwana mendatang.
Pandu diketahui akan maju di kampung halamannya sendiri, yakni Nagari Tandikek Utara, Kecamatan VII Koto Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman. Keputusan tersebut disebut sebagai bentuk kecintaan terhadap kampung halaman serta keinginannya untuk berkontribusi lebih besar bagi pembangunan nagari.
Dalam kesehariannya, Pandu bekerja sebagai staf di kantor wali nagari setempat. Pengalaman tersebut membuatnya cukup memahami bagaimana roda pemerintahan nagari berjalan, termasuk berbagai persoalan administratif maupun kebutuhan masyarakat.
Selain aktif dalam pemerintahan nagari, Pandu juga dikenal sebagai sosok pemuda yang aktif dalam kegiatan kepemudaan. Sejak tahun 2017 hingga kini, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Pemuda di lingkungannya.
Peran tersebut membuatnya cukup dekat dengan kalangan generasi muda sekaligus memahami berbagai aspirasi serta harapan mereka terhadap pembangunan nagari.
Tidak hanya di bidang organisasi kepemudaan, Pandu juga aktif dalam pelestarian budaya daerah. Sejak tahun 2016 hingga sekarang, ia tercatat aktif dalam kesenian tradisional Minangkabau, Ulu Ambek.
Kesenian tradisional khas Pariaman tersebut dikenal sarat dengan nilai adat, kekompakan, serta filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau.
Bersama kelompoknya, Pandu bahkan pernah tampil pada pertunjukan tingkat nasional, salah satunya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta. Pengalaman tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan mempromosikan budaya daerah.
Selain aktif di bidang organisasi dan kesenian, Pandu juga memiliki latar belakang kegiatan keagamaan sejak usia muda. Ia pernah menjadi utusan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dari Kecamatan Patamuan.
Di sisi lain, Pandu juga memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan demokrasi. Ia pernah dipercaya menjabat sebagai Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) di tingkat kecamatan.
Selama memimpin PPK, sejumlah agenda demokrasi nasional berjalan dengan baik, mulai dari Pemilihan Legislatif, Pemilihan Presiden, hingga Pemilihan Kepala Daerah.
Dalam menjalankan tugas tersebut, Pandu dikenal mengedepankan koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak. Ia membangun sinergi dengan Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwascam), unsur kepolisian, ninik mamak, tokoh masyarakat, hingga kalangan generasi muda.
Kolaborasi tersebut dinilai menjadi salah satu kunci sukses penyelenggaraan tahapan pemilu di wilayah tersebut yang berjalan aman, tertib, dan demokratis.
Bagi Pandu, keputusan untuk maju sebagai bakal calon Wali Nagari bukanlah sekadar untuk meraih jabatan atau kedudukan.
Ia menegaskan bahwa niat utamanya adalah ingin berkontribusi lebih besar dalam memajukan kampung halaman.
Menurutnya, nagari memiliki potensi besar yang perlu dikelola secara maksimal. Dengan perencanaan yang matang serta dukungan masyarakat, potensi tersebut diyakini mampu menjadi kekuatan ekonomi baru bagi warga.
Nagari Tandikek Utara sendiri tergolong nagari yang relatif muda. Wilayah ini berdiri pada tahun 2011 sebagai hasil pemekaran dari Nagari induk Tandikek, dengan luas wilayah sekitar 9,58 kilometer persegi.
Secara geografis, nagari ini memiliki posisi yang cukup strategis karena berada di jalur utama Sicincin–Balingka yang lebih dikenal dengan sebutan jalur Simaka.
Jalur tersebut merupakan salah satu akses penting yang menghubungkan sejumlah wilayah di Sumatera Barat, sehingga memberikan peluang besar dalam pengembangan ekonomi dan mobilitas masyarakat.

Nagari Tandikek Utara juga berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Agam, tepatnya dengan Nagari Malalak Selatan di Kecamatan Malalak.
Selain memiliki posisi geografis yang strategis, wilayah ini juga menyimpan potensi wisata alam yang cukup menarik, di antaranya Air Terjun Baburai Sipisang serta kawasan Pemandian Lubuak Batu Palimauan yang kerap menjadi tujuan wisata lokal masyarakat.
Dengan munculnya tokoh-tokoh muda seperti Pandu Hardiknas dalam Pilwana kali ini, masyarakat berharap akan lahir energi baru dalam pembangunan nagari.
Pilwana pun diharapkan tidak sekadar menjadi ajang kontestasi politik, tetapi juga momentum lahirnya gagasan dan semangat baru untuk membawa nagari menuju masa depan yang lebih maju. [*]






