LUAR NEGERI | KLIKGENZ.COM — Proyeksi pertumbuhan ekonomi China kini tidak lagi setinggi seperti beberapa dekade sebelumnya. Pemerintah China menetapkan target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini di kisaran 4,5% hingga 5%, yang menjadi level terendah sejak 1991.
Target tersebut diumumkan dalam rangkaian sidang politik tahunan Two Sessions, yang mencakup pertemuan National People’s Congress dan Chinese People’s Political Consultative Conference.
Dalam sidang pembukaan Kongres Rakyat Nasional di Great Hall of the People, Beijing, Kamis (5/3/2026), Perdana Menteri China Li Qiang menyampaikan laporan kerja pemerintah yang memuat target tersebut.
Penurunan target ini mencerminkan tekanan yang tengah dihadapi ekonomi China, mulai dari sektor properti yang belum pulih, konsumsi rumah tangga yang melemah, deflasi, hingga menyusutnya populasi usia kerja.
Berikut lima indikator utama yang menjelaskan perlambatan ekonomi China saat ini.
1. Sektor Properti Masih Tertekan
Selama puluhan tahun, sektor properti menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi China.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini mengalami kemerosotan tajam. Pengetatan aturan utang bagi pengembang pada 2020 serta dampak pandemi membuat penjualan properti anjlok dan kepercayaan rumah tangga menurun.
Para ekonom memperkirakan harga rumah secara nasional telah turun sekitar 30% dari puncaknya pada 2021.
Akibatnya, banyak calon pembeli menunda pembelian karena khawatir harga masih akan turun. Di sisi lain, pengembang properti yang sarat utang menghadapi proyek mangkrak serta kewajiban keuangan yang semakin menumpuk.
Padahal pada masa puncaknya, sektor properti dan industri terkait menyumbang hingga seperempat PDB China. Kini kontribusinya turun menjadi kurang dari seperlima.
2. Konsumsi Rumah Tangga Masih Lemah
Turunnya harga properti turut menekan belanja masyarakat.
Ketika nilai rumah turun, rumah tangga merasa lebih miskin sehingga menjadi lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang.
Kondisi ini memperkuat tekanan deflasi yang telah berlangsung sejak 2023. Perusahaan menurunkan harga untuk menarik pembeli, namun langkah tersebut justru memperkuat siklus penurunan harga.
Pemerintah China bahkan menyebut fenomena persaingan harga berlebihan ini sebagai “involution”, dan kini berupaya menekan perang harga di berbagai sektor industri.
3. Populasi Menyusut
China juga menghadapi tantangan demografi yang serius.
Jumlah kelahiran turun menjadi 7,93 juta pada 2025, angka terendah sejak 1949.
Penduduk usia kerja (16–59 tahun) kini hanya sekitar 61% dari total populasi, turun dari lebih dari 70% satu dekade lalu.
Dengan populasi yang menua cepat, tekanan terhadap produktivitas ekonomi semakin besar.
Presiden China Xi Jinping menekankan pentingnya investasi pada teknologi seperti kecerdasan buatan, semikonduktor, bioteknologi, dan robotika untuk meningkatkan produktivitas.
4. Pasar Kerja Anak Muda Semakin Sulit
Masalah lain muncul di pasar tenaga kerja, terutama bagi generasi muda.
Jutaan lulusan baru memasuki pasar kerja setiap tahun, sementara ekonomi sedang melambat.
Banyak lulusan mencari pekerjaan kantoran, sementara sektor manufaktur justru kesulitan mencari tenaga kerja.
Ketidakpastian pekerjaan membuat masyarakat lebih memilih menabung daripada belanja, sehingga pemulihan konsumsi menjadi lebih lambat.
5. Ekspor Masih Menopang Ekonomi
Di tengah lemahnya permintaan domestik, ekspor masih menjadi penopang ekonomi China.
Pada 2025, ekspor neto menyumbang sekitar sepertiga pertumbuhan PDB, proporsi tertinggi sejak 1997.
Meski tarif dari Amerika Serikat terhadap barang China meningkat tajam, ekspor ke Eropa dan Asia Tenggara mampu menutup sebagian tekanan tersebut.
Selain itu, China juga meningkatkan ekspor produk bernilai tinggi seperti kendaraan listrik, panel surya, dan mesin industri.
Surplus perdagangan China bahkan mencapai US$1,2 triliun pada 2025, rekor tertinggi dalam sejarah.
Meski begitu, ketergantungan pada ekspor juga membawa risiko, terutama di tengah meningkatnya proteksionisme perdagangan global.
Untuk mencapai target pembangunan ekonomi menengah pada 2035, China diperkirakan perlu mempertahankan pertumbuhan rata-rata sekitar 4,17% per tahun selama satu dekade ke depan.
(Sumber: CNBC Indonesia)






